Jakarta, GPriority.co.id – Presiden AS, Donald Trump, membuat langkah kebijakan baru yang memicu kontroversi besar. Trump dilaporkan telah menarik visa ratusan mahasiswa asing dan menarik dana dari universitas yang mengizinkan adanya demo pro-Palestina.
Tindakan keras ini dilakukan setelah meningkatnya demonstrasi yang dipimpin mahasiswa di universitas-universitas besar seperti Harvard dan Stanford, kampus-kampus negeri seperti University of Maryland, dan bahkan perguruan tinggi seni liberal yang lebih kecil. Semuanya menunjukkan dukungan untuk kemerdekaan Palestina setelah serangan Israel tahun 2023 lalu di Gaza.
Menurut laporan BBC pada hari Kamis (10/4), lebih dari 300 pembatalan visa mahasiswa asing telah dilakukan sejak Maret 2025 dan terjadi tanpa peringatan atau kesempatan untuk mengajukan banding. Hal ini mengganggu kegiatan mahasiswa dan operasi fakultas di lebih dari 80 universitas. Adapun hal ini juga turut dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.
Lebih lanjut, menurut laporan AFP News, pembatalan tersebut dimaksudkan untuk mengirim pesan, yang menunjukkan bahwa mahasiswa asing yang mengekspresikan pendapat mereka menurut pemerintahan Trump, telah melampaui batas.
Donald Trump Dinilai Bungkam Kebebasan Berbicara
Menurut laporan lain, sebanyak 20 jaksa agung negara bagian di AS telah mengeluarkan perintah darurat untuk menghentikan pencabutan visa terhadap sekitar 700 mahasiswa internasional. Kebijakan yang dimulai di masa pemerintahan Donald Trump tersebut dituding menyalahgunakan sistem imigrasi untuk membungkam kebebasan berbicara, khususnya terhadap mahasiswa yang menyuarakan dukungan terhadap Palestina.
Contohnya seperti Mahmoud Khalil dari Universitas Columbia dan Rumeysa Ozturk dari Universitas Tufts, yang harus kehilangan visa karena aksi atau tulisan pro-Palestina, bahkan menjelang kelulusan keduanya. Disamping itu, pencabutan visa ini juga menyasar mahasiswa dengan kasus ringan atau alasan yang tidak jelas, seperti Krish Isserdasani dari India yang visanya dibatalkan meski tuduhannya tidak dilanjutkan.
Sementara dua mahasiswa lain dari Iran dan Turki di Universitas Negeri Montana pun mengalami hal serupa tanpa adanya bukti pelanggaran. Universitas-universitas besar di AS melaporkan kasus pencabutan visa secara masif, dengan Universitas Wisconsin mencatat setidaknya 40 kasus, termasuk 26 dari kampus Madison.
Foto : Dok. Al Jazeera
