K-Pope: Kardinal Korea Selatan Kandidat Pengganti Paus Fransiskus

K-Pope: Kardinal Korea Selatan Kandidat Pengganti Paus Fransiskus K-Pope: Kardinal Korea Selatan Kandidat Pengganti Paus Fransiskus

Jakarta, GPriority.co.id – Proses pemilihan paus baru usai Paus Fransiskus meninggal, akan mulai dilangsungkan pada 7 Mei mendatang. Seluruh kardinal dari berbagai negara dunia pun menjadi sorotan.

Proses konklaf atau pemilihan sosok Paus baru akan menjadi sejarah bagi Gereja Katolik, dengan lebih dari 1,3 miliar umat Katolik seluruh dunia, salah satu kandidat yang menarik perhatian adalah Kardinal Lazarus You Heung-sik dari Korea Selatan.

Ia lahir pada 1951 di Nonsan, Korea Selatan, You tumbuh di tengah masa perang dan kesulitan, namun tetap menemukan panggilan imannya. Setelah menempuh pendidikan teologi di Roma dan ditahbiskan pada 1979, Kardinal You mencetak sejarah pada 2021 sebagai prefix Korea pertama dari kongregasi untuk Klerus, lembaga yang membawahi lebih dari 400.000 pendeta Katolik di seluruh dunia.

Dirinya dikenal karena kecerdasannya, rasa belas kasih yang mendalam, serta kepemimpinan yang rendah hati. Kardinal You dipandang sebagai sosok yang mewujudkan visi inklusif Paus Fransiskus. Dirinya juga fasih berbahasa Italia dan berpengalaman membangun jembatan antarbudaya. Ia dinilai mampu membawa Gereja menuju masa depan yang lebih global dan beragam.

Jika nantinya terpilih, ia akan menjadi Paus Korea pertama dalam sejarah dan hanya Paus kedua dari luar Eropa di tengah era modern, mencerminkan pertumbuhan pesat Katolik di Asia dan Afrika serta dorongan kuat untuk keberagaman dalam kepemimpinan Gereja.

Proses Konklaf Akan Menyita Dunia

Proses konklaf yang akan berlangsung pada 7 Mei mendatang, tentu akan menyita dunia. Sebagai informasi, sekitar 135 kardinal diperkirakan akan berpartisipasi dalam pertemuan tersebut, yang akan diadakan di Kapel Sistina dan tertutup bagi umum selama periode ini.

Meskipun tidak ada tanggal pasti untuk penutupan konklaf, konklaf sebelumnya pada 2005 dan 2013 berakhir hanya dalam waktu dua hari. Selama pemilihan, para kardinal pemilih diharuskan untuk menghindari semua komunikasi, termasuk surat dan panggilan telepon, kecuali benar-benar diperlukan.

Secara resmi memilih paus baru, setidaknya dua pertiga dari para kardinal yang memberikan suara harus menyetujui seorang kandidat. Tradisi ini menekankan kerahasiaan dan kesungguhan proses tersebut.

Editor: Novita Intan

Foto : Korea JoongAng Daily