Iran, GPriority.co.id – Beberapa jam sebelum Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyampaikan pidato pertamanya, sebagian media Barat mengklaim bahwa ia dalam keadaan koma dan kehilangan satu kaki.
The Sun, yang pertama kali melaporkannya, mengutip sebuah sumber di Teheran, dan media Inggris, yang memperkuatnya, mengatakan bahwa mereka memperoleh informasi dari rumah sakit tempat ia dilaporkan dirawat setelah terluka dalam serangan udara.
Namun, tak lama kemudian, Iran merilis pesan audio dari Ayatollah tersebut di mana ia berbicara tentang serangan oleh AS dan Israel, pembantaian sekolah Minab, negara-negara Teluk yang diserang, dan kematian anggota keluarganya.
Pada pidato pertamanya di hari Kamis (12/3) kemarin, Mojtaba mengatakan Iran tidak akan ragu untuk membalas dendam atas kejahatan yang dilakukan oleh musuh, terutama pembantaian sekolah Minab, yang menewaskan 168 siswi.
Ia pun meminta negara-negara Teluk untuk menutup pangkalan-pangkalan Amerika, dengan mengatakan bahwa jika tidak, mereka akan terpaksa terus menargetkan pangkalan-pangkalan Amerika di sana. Mojtaba juga mengatakan mereka hanya menargetkan pangkalan-pangkalan tersebut tanpa menyerang negara-negara tersebut. Ia mendesak mereka untuk menentukan posisi mereka mengenai para agresor dan pembunuh rakyat Iran.
“Kita berbatasan dengan 15 negara, dan kita selalu menginginkan dan masih menginginkan untuk membangun hubungan yang konstruktif dengan mereka,” ujarnya dikutip dari laporan AFP.
Sementara itu, surat kabar The Sun melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei dalam keadaan koma dan juga kehilangan satu kaki akibat serangan udara. Surat kabar itu mengutip sebuah sumber yang mengatakan bahwa Ayatollah berada dalam kondisi kritis dan juga menderita kerusakan serius pada perut atau hati.
Tidak jelas apakah ia mengalami cedera tersebut dalam serangan yang sama yang menewaskan ayahnya, Ali Khamenei, pada 28 Februari. Sumber tersebut menyampaikan informasi tentang kondisi Mojtaba dari Teheran kepada seorang pembangkang yang diasingkan dan berbasis di London.
Sumber tersebut mengatakan bahwa Pemimpin Tertinggi yang baru itu berada dalam perawatan intensif di Rumah Sakit Universitas Sina, dan sebagian bangunan telah ditutup dengan pengamanan ketat di lokasi kejadian.
Sumber tersebut, yang namanya dirahasiakan karena alasan keamanan, mengatakan bahwa ia mengenal orang-orang di tim trauma rumah sakit yang mengatakan kepadanya bahwa kondisi Mojtaba ssangat serius.
Ia juga menyebutkan nama dokter yang merawatnya sebagai Mohammad-Reza Zafarghandi, yang merupakan ahli bedah trauma terkemuka Iran dan juga Menteri Kesehatan, Pengobatan, dan Pendidikan Kedokteran.
“Satu atau dua kakinya telah dipotong. Hati atau perutnya juga pecah. Dia tampaknya juga dalam keadaan koma,” kata sumber tersebut kepada The Sun.
Zafarghandi adalah salah satu dokter yang paling dipercaya oleh rezim Iran. The Sun mengakui bahwa karena pemadaman internet di Iran, tidak mungkin untuk memverifikasi laporan tersebut.
Perlu dicatat, televisi pemerintah Iran sebelumnya menyebut Mojtaba sebagai “Jaanbaz dari Ramadan” – seorang veteran perang yang terluka. Menurut rumor yang beredar, Iran dipimpin oleh roh Mojtaba.
Tak sampai disitu, laporan juga mengklaim bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengunjungi Rumah Sakit Sina dua hari yang lalu.
Jika anda melewatkannya, Mojtaba diangkat sebagai pengganti ayahnya hanya lima hari yang lalu. Tetapi sejak itu tidak pernah terdengar kabarnya. Dia memilih bungkam mengenai perang, dan ada desas-desus bahwa dia mungkin sudah meninggal.
Namun pada Rabu (11/3) lalu, Yousef Pezeshkian, putra Presiden Masoud Pezeshkian, mengatakan bahwa Mojtaba aman dan sehat.
