Jakarta, GPriority.co.id – Lembaga penelitian independen, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menyoroti ambisi pemerintah Indonesia dalam pengembangan pertambangan dan hilirisasi nikel di Provinsi Maluku Utara (Malut) yang dimulai sejak tahun 2020.
Lembaga tersebut mengakui bahwa langkah ini telah mendorong peningkatan ekonomi di wilayah tersebut.
Namun, CALIOS menilai ketergantungan berlebihan pada sektor nikel membawa risiko serius bagi perekonomian masyarakat dan lingkungan.
“Sejak tahun 2020, Maluku Utara menjadi pusat ambisi pemerintah Indonesia dalam pertambangan dan hilirisasi nikel. Dampaknya sangat besar: di atas kertas, provinsi ini mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar dua digit sejak 2021. Bahkan pada 2022 dan 2023, di tengah tekanan COVID-19, pertumbuhan masih menembus 20 persen. Meski terlihat mengesankan, ketergantungan berlebihan pada nikel membawa risiko serius bagi perekonomian masyarakat dan lingkungan,” isi laporan CALIOS, dilihat Kamis (23/10).
Melihat kondisi ini, CALIOS mengkhawatirkan masa depan ekonomi Malut. Menurut lembaga tersebut, nikel merupakan komoditas terbatas, sementara harga dan permintaannya sangat sangar di pasar global.
“Jika tidak diantisipasi, industri ini berisiko meninggalkan kerusakan lingkungan permanen. Padahal, RPJPN 2025–2045 sudah menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan di tingkat daerah,” katanya.
Sebagai solusi, CALIOS menekankan pentingnya diversifikasi ekonomi. Laporan mereka menilai sektor pertanian, perikanan, dan energi terbarukan memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
“Dengan pengembangan serius, sektor-sektor ini diperkirakan bisa menambah Rp76 triliun bagi ekonomi Maluku Utara dalam 20 tahun, menciptakan 1,8 juta lapangan kerja, serta menyalurkan tambahan Rp28 triliun dalam bentuk pendapatan pekerja di sektor terbarukan,” tutur CALIOS.
Secara rata-rata, diversifikasi ekonomi ini dapat mendorong pertumbuhan sekitar 2,96 persen per tahun selama dua dekade, di luar pertumbuhan dasar yang sudah ada.
Menurut CALIOS, angkanya memang tidak sebesar lonjakan jangka pendek dari nikel, namun hal ini jauh lebih stabil dan berkelanjutan.
“Pendekatan ini memungkinkan Maluku Utara tumbuh tanpa harus mengorbankan lingkungan, sekaligus memberi fondasi ekonomi jangka panjang,” pungkas CALIOS.
