Paus, Harapan Warga Lamalera (Bagian 1)

Musim kemarau di Lamalera yang terletak di Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) lebih panjang dibandingkan musim penghujan. Akibatnya warga pun tak terlalu banyak berharap dari perkebunan. Di tengah kondisi georafis itu, Paus menjadi harapan hidup warga Lamalera.

Kenangan di tahun 2013 tentang Lamalera masih membekas hingga saat ini. Ketika itu, saya tiba di Lembata – salah satu pulau dalam gugusan Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) – saat kemarau melanda. Panas terik matahari begitu terasa di dalam kabin mobil bergardan ganda milik Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) setempat yang mengantar saya ke penginapan. Sepanjang perjalanan, Kepala Dinas KKP setempat, AA. Amuntoda bercerita tentang rumput dan pepohonan yang banyak terbakar disisi kanan dan kiri jalan. Kebakaran itu menurutnya dikarenakan pengendara mobil atau motor yang membuang rokok secara sembarangan. Namun pohon dan rumput yang terbakar bisa juga kesengajaan yang dilakukan oleh para pemburu rusa. Dengan membakar rumput dan pepohonan, rusa akan berkumpul pada titik tertentu. Daging rusa konon sangat enak untuk dikonsumsi, karena itu binatang bertanduk cabang itu menjadi buruan utama di Lembata.

Jalan yang tandus berdebu terus kami lewati. Pun halnya dengan sungai yang surut. Amuntoda terus melanjutkan ceritanya kepada saya. Dikatakannya, jika saja saya datang dalam musim penghujan, maka kondisinya akan berbeda jauh. Alam Lembata yang berkontur pegunungan bersanding dengan lautan akan lebih tampak seperti alam Eropa. Dalam bayangan saya, pendapat itu ada benarnya. Bayangkan, gunung dengan rerumputan dan pepohonan hijau berpadu dengan ternak warga seperti sapi, kambing dan babi berada dalam satu frame. Apalagi ketika sunrise muncul dan sunset tenggelam pada sisi gunung dan laut. Itulah frame Eropa!

Tetapi saya terus menghibur diri dan mengatakan kepada Amuntoda, jika musim penghujan tiba tentu saja tidak sampai Lembata. Sebab, perjalanan saya dimulai dari Kupang dengan menggunakan Ferry menuju pelabuhan Lewoleba. Berlayar ketika musim penghujan tentu mengundang risiko besar. Dan saya tak akan melakukannya. Seperti kita ketahui, Indonesia umumnya dan Lembata khususnya memiliki dua iklim tropis yakni kemarau dan hujan. Di Lembata, musim kemarau terjadi pada bulan April-Oktober sedangkan musim hujan terjadi pada bulan Nopember-Maret. Jadi musim kemarau lebih panjang dibandingkan musim penghujan. Adapun rata-rata suhu udara maksimum berkisar antara 30 C-33 C, sedangkan suhu udara minimum berkisar antara 20 C-24 C.

30 menit pun berlalu dalam mobil DKP. Saya tiba di penginapan. Amuntoda menyarankan untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum memulai perjalanan pada esok hari menuju Lamalera, sebuah desa yang melestarikan perburuan paus. Sembari istirahat saya menyempatkan diri browsing tentang Lembata. Meski sinyal internet lewat modem lelet, toh saya bisa mendapatkan gambaran akan Lembata. Lembata yang beribukota Lewoleba memiliki penduduk asli yang beretnis Lamaholot dan etnis Kedang. Etnis Kedang mendiami wilayah Kecamatan Omesuri dan Kecamatan Buyasuri sedangkan etnis Lamaholot mendiami wilayah Kecamatan Ile Ape, Kecamatan Ile Ape Timur, Kecamatan Nagawutun, Kecamatan Wulandoni, Kecamatan Atadei, Kecamatan Nubatukan dan Kecamatan Lebatukan. Setiap etnis memiliki dialek dan bahasa daerahnya masing-masing, serta tradisi adat istiadat yang berbeda pula.

Disamping itu, para pendatang juga banyak yang mengadu nasib di Lembata. Ada yang dari Bugis, Manado, Madura serta Jawa. Saya banyak menjumpai orang Jawa yang berdagang bakso, mie ataupun pecel lele di sudut-sudut Lewoleba. Mereka akan senang jika diajak ngobrol dengan bahasa ibunya, bahasa Jawa. Banyaknya pendatang di Lembata dikarenakan daerah ini termasuk strategis sebagai pintu masuk dari Kupang ke Larantuka atau sebaliknya. Karena itu pelabuhan Lewoleba dipenuhi banyak peti kemas dari kapal-kapal niaga. Pun halnya dengan arus masuk dan keluar orang di pelabuhan ini. Apalagi jalur udara di Lewoleba pun juga sudah dibuka dari dan menuju Kupang. Singkat kata, menuju Lewoleba kini bisa dilakukan dengan mudah. Baik dari laut dan udara.

Dari penginapan, saya sempat bertanya kepada staff penginapan akan sebuah gunung yang tampak. Dikatakannya itu adalah gunung Ile Ape dengan ketinggian mencapai 1.319 meter diatas permukaan laut. Dari staff itu pula saya mengetahui bahwasanya mayoritas penduduk Lembata menganut agama Katolik, sebagian lainnya menganut agama Islam, Protestan, Hindu dan Budha. Meskipun demikian masyarakat Lembata masih menaruh kepercayaan terhadap leluhur dan lera wulan tanah ekan berupa ritual adat dan pemberian sesajian sebelum melakukan kegiatan tertentu.

Hal ini sempat saya rasakan ketika saya disambut oleh Amuntoda di pelabuhan Lewoleba. Saya sempat disuguhkan legen. Warga setempat menyebutnya sebagi tuak manis. Tuak yang belum dikasih campuran ragi sehingga alkoholnya belum ada. Meski begitu, jika diminum terlalu banyak akan memabukkan juga. Saya disuguhkan batok kelapa yang dituangkan legen. Amuntoda menyuruh saya menuangkan sebagian legen itu ke bumi (baca: tanah) sebelum meminumnya. Hal itu dilakukan sebagai penghormatan kepada leluhur. Di Lembata, tak ada pesta ada di kampung tanpa legen. Dalam satu literatur disebutkan, sebelum tahun 2000, khususnya tahun 80an, legen menjadi minuman sehari-hari pengganti air putih di berbagai kampung di Ile Ape, Lembata. Khususnya kampung-kampung lama yang jauh dari pantai. Ini adalah sebuah rutinitas bagi laki-laki disana. Selain itu, faktor kesulitan air juga mendorong mereka untuk mengkonsumsi legen. Di pegunungan, air tawar sulit didapat karena umumnya sudah tercemar oleh belerang. Amuntoda mengkisahkan bagaimana banyaknya penduduk Ile Ape yang bergigi keropos karena nekat mengkonsumsi air yang diambil dari dalam tanah. Sebaliknya mereka yang dekat pantai pun harus mencicipi asinnya air tanah mereka. Karena itulah DKP setempat gencar mendirikan tempat penyulingan air di daerah-daerah dengan air tercemar. Bersambung.

Foto : Aufa Suharyanto