Penelitian: Perubahan Suara Bisa Terjadi Karena Menopause

perubahan suara bisa menjadi salah satu gejala menopause pada wanita/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik perubahan suara bisa menjadi salah satu gejala menopause pada wanita/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Menopause merupakan kondisi akhir siklus menstruasi seorang wanita. Biasanya ditandai dengan tidak adanya menstruasi selama 12 bulan berturut-turut.

Setelah menopause, masa reproduktif seorang wanita sudah selesai hingga ia tak lagi bisa hamil karena ovarium berhenti memproduksi hormon dan juga sel telur.

Umumnya, gejala menopause meliputi perubahan siklus menstruasi, hot flashes atau sensasi panas mendadak, keringat pada malam hari, hingga sulit tidur maupun terjadinya mood swing (perubahan suasana hati).

Namun dilansir dari laporan NY Post, sebuah makalah penelitian USF Health yang diterbitkan dalam jurnal “Menopause“, memberikan wawasan baru tentang satu perubahan besar pada wanita yang disebut menjadi gejala menopause.

Penelitian tersebut dilakukan dalam 20 tahun terakhir. Ditemukan bahwa hampir setengah dari wanita menopause mengalami perubahan suara (vokal) yang nyata, seperti suara yang lebih berat, lebih serak, hingga hilangnya stabilitas vokal.

Para peneliti tersebut juga menemukan bahwa profesi tertentu seperti guru, aktor, dan penyanyi, lebih rentan mengalami kondisi tersebut.

Bagaimana suara kita terdengar merupakan sebuah proses kompleks yang membutuhkan koordinasi tepat dari berbagai sistem tubuh, otot, aliran udara yang tepat dari paru-paru, serta elastisitas pita suara. Semua faktor tersebut berperan dalam pembentukan lipatan vokal.

Gangguan sekecil apa pun dapat berdampak negatif, termasuk fluktuasi hormon yang membantu menjaga struktur laring atau kotak suara kita agar tetap utuh.

Meskipun penurunan estrogen dan progesteron juga ikut berperan, namun hal tersebut bukan satu-satunya faktor, karena banyak wanita beralih ke terapi hormon untuk mengatasi gejala-gejala tersebut.

Uniknya, peneliti utama sekaligus direktur USF Health Voice Center, Yael Bensoussan, menemukan bahwa salah satu pasiennya yang merupakan seorang penyanyi, memiliki suara yang terdengar berbeda setiap kali ia sedang menstruasi.

Untuk mengatasi perubahan suara tersebut, terdapat berbagai macam pengobatan untuk gejala yang tidak biasa. Mulai dari terapi suara, hidrasi, serta terapi hormon sistemik. Ada juga prosedur yang dikenal sebagai augmentasi injeksi lipatan vokal bilateral yang terdiri dari suntikan ke pita suara untuk mempertebal lipatan tersebut, dan mengatasi pelemahan otot yang terjadi.