London, Gpriority.co.id – Scott Ritter, mantan perwira intelijen Korps Marinir AS dan Kepala Inspektur Senjata PBB di Irak (1991-1998), baru-baru ini tampil dalam wawancara eksklusif dengan George Galloway di acara MOATS. Dalam wawancaranya dengan Galloway, Ritter memprediksi AS-Israel sudah kalah oleh Iran.
Dalam wawancara yang membahas serangan AS-Israel ke Iran ini, Ritter menyebutnya sebagai operasi regime change paling gagal dalam sejarah modern. Ritter, yang pernah bertugas di bawah Jenderal Norman Schwarzkopf selama Perang Teluk dan di Uni Soviet untuk kontrol senjata, mengkritik keras strategi Donald Trump.
Ritter menyoroti kesalahan fatal Trump yang mengira pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei oleh enam rudal pertama ke Tehran akan memicu pemberontakan rakyat Iran. Sebaliknya, Ritter menegaskan, kematian Khamenei memicu “martirisme Syiah” seperti pembunuhan Paus bagi umat Katolik, menyatukan rakyat Iran untuk bertempur nekat.
“AS kalah perang ini sejak rudal pertama jatuh,” tegas Ritter, karena rezim justru semakin kuat. Terkait nuklir, Iran, sebutnya, telah menyetujui “kesepakatan seumur hidup” yang memenuhi tuntutan AS, tapi Trump dan Netanyahu merencanakan serangan dari awal meski tahu Iran tak punya senjata nuklir.
Hal ini dikatakan Ritter sebagai “Great Perfidy” yang menjadikan AS sebagai “negara kriminal” selevel Nazi Jerman atau Imperial Jepang, melanggar negosiasi dan intelijen sendiri. Ritter kemudian memuji Iran yang sengaja kirim rudal murah untuk menguras pertahanan AS-Israel, lalu luncurkan “sentuhan pembunuh” akurat yang hancurkan radar AS senilai miliaran dolar serta membunuh perwira Israel di konferensi rahasia yang baru dipilih pagi itu.
Ia mengungkapkan jika pejabat Israel kini layaknya “dead men walking” karena superioritas intelijen Iran, sementara kerugian infrastruktur AS diprediksi >$100 miliar. Dalam wawancaranya itu, Ritter juga menyindir Trump sebagai “pelacur $50” yang menjual “America First” demi Miriam Adelson dan Netanyahu, menjadikannya “Israel First”.
Trump, jelasnya, mengabaikan briefing intelijen dan pimpin perang agresi ilegal, yang akan picu harga minyak melambung, ekonomi AS runtuh, serta impeachment berulang.” Kehadiran AS di Timur Tengah dikatakan Ritter sebagai “kanker”, dengan Iran berperan sebagai dokter yang berikan “kemoterapi ketat” hingga AS cabut memalukan dari basis-basisnya dan sekutu Teluk. “The chicken shall come home to roost,” pungkas Ritter, memprediksi kekalahan total AS-Israel yang terpaksa cari damai.
Foto : Ss George Galloway Yt
