Afrika Barat, GPriority.co.id – Sebuah kapal pesiar ekspedisi, MV Hondius, dilaporkan terdampar dan terisolasi di perairan lepas pantai Tanjung Verde (Cape Verde), Afrika Barat, setelah muncul dugaan wabah hantavirus yang menewaskan tiga orang dan menyebabkan sejumlah penumpang serta kru jatuh sakit. Insiden ini memicu respons darurat internasional serta penyelidikan intensif oleh otoritas kesehatan global.
Menurut laporan NY Post, kapal yang dioperasikan oleh Oceanwide Expeditions tersebut awalnya melakukan pelayaran panjang dari Ushuaia, Argentina, melintasi kawasan Antartika hingga Samudra Atlantik. Namun perjalanan berubah menjadi krisis kesehatan setelah beberapa penumpang mengalami gejala penyakit pernapasan serius pada awal April 2026.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa setidaknya tujuh kasus telah diidentifikasi di atas kapal, terdiri dari dua kasus terkonfirmasi dan lima kasus suspek. Dari jumlah tersebut, tiga orang dinyatakan meninggal dunia, sementara beberapa lainnya berada dalam kondisi kritis dan memerlukan perawatan intensif.
Seluruh penumpang dan kru yang berjumlah sekitar 140 hingga 150 orang, kini diisolasi di dalam kapal sebagai langkah pencegahan. Mereka diminta tetap berada di kabin masing-masing, sementara tim medis internasional melakukan pemantauan ketat serta upaya penanganan darurat.
Laporan The Guardian menyebut, Pemerintah Tanjung Verde menolak izin kapal untuk bersandar di pelabuhan setempat guna mencegah potensi penyebaran penyakit ke daratan. Sebagai alternatif, otoritas internasional tengah mempertimbangkan evakuasi medis terbatas serta pengalihan kapal menuju Kepulauan Canary di Spanyol untuk investigasi lebih lanjut dan proses disinfeksi.
Hantavirus sendiri merupakan penyakit langka namun berbahaya yang umumnya ditularkan melalui paparan partikel dari urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat. Dalam beberapa kasus tertentu, seperti varian Andes yang diduga terlibat dalam insiden ini, penularan antarmanusia dapat terjadi meski sangat jarang.
Para ahli menduga sumber infeksi kemungkinan berasal dari aktivitas darat selama perjalanan di Amerika Selatan, sebelum kapal melanjutkan pelayaran ke Atlantik. Namun hingga kini, penyelidikan epidemiologis masih berlangsung untuk memastikan asal-usul pasti wabah tersebut.
Situasi di atas kapal dilaporkan menimbulkan tekanan psikologis bagi para penumpang. Beberapa di antaranya menyampaikan kekhawatiran atas ketidakpastian evakuasi serta risiko kesehatan yang terus mengintai di tengah isolasi.
Meski demikian, WHO menegaskan bahwa risiko penyebaran lebih luas ke masyarakat global masih tergolong rendah dan belum diperlukan pembatasan perjalanan internasional.
Sementara itu, seorang influencer asal AS, Jake Rosmarin, menggambarkan ketidakpastian setelah tiga orang meninggal dan lebih banyak lagi yang diduga terinfeksi, karena kapal tersebut dilarang berlabuh di Cape Verde.
Perjalanan ini seharusnya menjadi perjalanan seumur hidup bagi influencer perjalanan yang berbasis di Boston tersebut, yang menyeberangi Samudra Atlantik Selatan dari Ushuia di Argentina ke Cape Verde di lepas pantai Afrika.
“Apa yang terjadi saat ini sangat nyata bagi kita semua di sini,” kata Rosmarin, dari atas kapal yang dilanda virus hantavirus dalam sebuah video yang diunggahnya.
