66 % Siswa Ingin Kembali ke Sekolah

Kebijakan program pembelajaran jarak jauh masih berlaku bagi siswa yang sekolahnya berada di zona merah, orange maupun kuning. Sebab, Pemerintah Pusat melarang sekolah-sekolah di zona tersebut untuk kembali buka lantaran masih tingginya penyebaran Covid-19.

Kebijakan ini tentu saja menimbulkan pertanyaan, apakah siswa menyukainya atau justru merasa bosan.

Untuk mengetahui jawaban di atas, United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) Indonesia melakukan survey kepada 60 juta siswa di 34 Provinsi yang masuk di zona tersebut.

Berdasarkan survey yang dilakukan melalui SMS, WhatsApp, serta Messenger, sebanyak 66 persen siswa dari pelbagai jenjang pendidikan mengaku tidak nyaman belajar di rumah selama pandemi Covid-19.

Menurut perwakilan UNICEF di Indonesia Debora Comini, ada beragam alasan yang diberikan oleh responden. 38 % siswa mengaku kekurangan bimbingan dari guru, 25% mengatakan tidak bisa mendownload semua materi karena membutuhkan kuota internet yang besar dan sisanya mengaku jaringan buruk serta tidak memiliki smartphone dan laptop.

Debora mengatakan, para siswa tersebut juga menginginkan agar sekolah kembali dibuka. Pasalnya dengan kembalinya sekolah, mereka bisa belajar dengan tenang. “ Para responden percaya, penerapan protokol kesehatan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bisa mencegah terjadinya penularan Covid-19 di sekolah,” jelas Debora.

Menanggapi keinginan anak untuk kembali ke sekolah, Psikolog keluarga dan anak di Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani mengatakan tidak terlalu menyetujuinya. Alasannya adalah masih tingginya Covid-19 melanda berbagai daerah di Indonesia.

“Sebagai psikolog saya memahami keinginan mereka untuk bersekolah, dikarenakan rasa kejenuhan mereka selama berada di rumah,” jelas Anna.

Namun, Debora mengingatkan, lebih baik di rumah saja dulu bagi siswa yang berada di zona merah, orange dan kuning di Indonesia. Karena jika berada dirumah tingkat penularan Covid-19 sangat kecil dibandingkan saat berada di sekolah.

Alih-alih mengatasi kejenuhan, Anna justru menyarankan agar para siswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif seperti nge-vlog, bikin tiktok, mengaji dan kegiatan lainnya.

Anna juga meminta kepada Kemendikbud agar guru turun langsung secara virtual saat memberikan pelajaran jarak jauh, sehingga suasana menjadi seperti di sekolah.

Terkait dengan kuota internet, pemerintah harus memfasilitasinya. Caranya dengan memberikan internet gratis bagi siswa. “Untuk yang jaringannya buruk dan tidak memiliki fasilitas teknologi, sebaiknya guru-guru mendatangi murid,” pungkas dia.#(Haris)

Related posts