Caracas, Gpriority.co.id – Pemerintah Venezuela menuduh Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer di ibu kota Caracas serta wilayah negara bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira pada Sabtu (3/1) dini hari ini. Setidaknya tujuh ledakan besar mengguncang wilayah tersebut sejak pukul 02.00 waktu setempat, disertai pesawat tempur AS yang terbang rendah, menyebabkan pemadaman listrik luas dan kepanikan massal di kalangan warga.
Presiden Nicolás Maduro segera menetapkan status keadaan darurat nasional, mengerahkan seluruh pertahanan semesta, serta mengecam agresi tersebut sebagai “serangan imperialis ilegal.” Kementerian Komunikasi Venezuela menyatakan bahwa serangan menargetkan instalasi militer dan sipil, termasuk hanggar pangkalan militer di Caracas serta Pangkalan Udara El Libertador di Maracay, markas utama Angkatan Udara negara itu. Warga melaporkan asap tebal membumbung, getaran tanah hebat, dan pemadaman listrik berjam-jam di berbagai lingkungan kota.
Sementara Federal Aviation Administration (FAA) AS telah menerbitkan NOTAM yang melarang penerbangan di wilayah udara Venezuela, sementara pejabat anonim dari pemerintahan Presiden Donald Trump mengonfirmasi operasi militer melalui Fox News dan CBS. Hingga kini, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa atau luka, karena informasi masih berkembang pasca-serangan yang terjadi hanya beberapa jam lalu.
Latar belakang eskalasi serangan ini merupakan puncak dari ketegangan berkepanjangan antara Washington dan Caracas. Sejak akhir Agustus 2025, Pentagon mengerahkan sekitar 15.000 pasukan, pesawat kargo C-17, dan kapal perang di Karibia—skala terbesar dalam dekade terakhir. Militer AS telah menyerang kapal-kapal kecil yang diduga menyelundupkan narkoba, menewaskan sedikitnya 115 orang secara kumulatif.
Pemerintahan Trump menargetkan Maduro sebagai “narko-teroris” yang memimpin Cartel de los Soles, organisasi kriminal yang melibatkan perwira militer tinggi dalam perdagangan narkoba—tuduhan yang dibantah Maduro sejak dakwaan AS pada Maret 2020. CIA juga melakukan serangan drone ke fasilitas pelabuhan bulan lalu, sementara Penjaga Pantai AS mencegat tanker minyak Venezuela, menyita satu di antaranya, dan mengganggu ekspor minyak utama negara itu.
Para pembantu Trump mendorong penggulingan Maduro, yang berkuasa sejak 2013 sebagai penerus Hugo Chávez. Departemen Luar Negeri AS menyebutnya pemimpin tidak sah, dengan sanksi ekonomi yang memperburuk krisis Venezuela. Hingga kini Pemerintah Venezuela menyerukan mobilisasi seluruh kekuatan sosial-politik menolak invasi, sementara dunia memantau potensi perang terbuka di Amerika Latin.
Foto : Istimewa
