Internet Indonesia Termahal di ASEAN, Tapi Jadi yang Terlambat Kedua

Internet Indonesia termahal di ASEAN, tetapi juga jadi yang terlambat kedua/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik Internet Indonesia termahal di ASEAN, tetapi juga jadi yang terlambat kedua/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik

ASEAN, GPriority.co.id – Internet Indonesia dilaporkan termahal di ASEAN dengan tarif fixed broadband USD0,41 atau Rp6,789 per Mbps, sebagaimana dilansir dari laporan Cable.co uk.

Secara global, Indonesia menduduki peringkat ke-12 sebagai negara dengan tarif internet fixed boardband paling mahal di dunia. Menurut laporan Visual Capitalist, mahalnya harga internet di Indonesia dikarenakan terbatasnya persaingan, tantangan infrastruktur, serta faktor regulasi.

Menurut Kamilov Sagala, pengamat telekomunikasi, salah satu komponen yang membuat harga internet di Indonesia mahal ialah karena tingginya beban regulasi yang ditanggung oleh perusahaan telekomunikasi. Terlebih, ada beban pungutan biaya dari daerah, baik dari pihak pemda maupun ormas.

“Jika struktur biaya di hulu sudah sangat tinggi, pasti harga layanan yang diterima konsumen di hilir sudah pasti lebih mahal. Sehingga, yang membuat harga layanan telekomunikasi mahal adalah negara sendiri,” ungkap Kamilov.

Karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan juga menjadi faktor utama yang membuat biaya pembangunan infrastruktur jaringan menjadi lebih tinggi. Sayangnya, mahalnya biaya internet di Indonesia tak sebanding dengan kualitas serta kecepatannya.

Laporan Speedtest Global Index melaporkan kecepatan internet di Indonesia terlambat kedua di ASEAN, baik layanan mobile broadband maupun fixed broadband-nya.

Beberapa faktor yang menyebabkan lambatnya kualitas internet di Indonesia ialah infrastruktur jaringan yang belum merata terutama pada wilayah di luar Pulau Jawa, serta kapasitas bandwidth yang terbatas dan membuat jaringan sulit mengimbangi pertumbuhan jumlah pengguna juga permintaan data yang terus mengalami peningkatan.

Sebagai solusi, saat ini pemerintah terus berupaya mempercepat upaya digitalisasi nasional baik melalui pengembangan infrastruktur telekomunikasi, ekspansi jaringan fiber optik, hingga persiapan peluncuran jaringan 5G di seluruh wilayah Indonesia.

Namun menurut Wayan Toni Supriyanto selaku Direktur Jenderal (Dirjen) Infrastruktur Digital Kemkomdigi (Kementerian Komunikasi dan Digital) pada bulan Juli lalu, cakupan jaringan 5G saat ini masih rendah.

“Untuk (jaringan) 5G saat ini datanya berdasarkan jumah populasi sebesar 8,92 persen. Kalau luas pemukiman ter-cover sinyal 5G hanya 4,4 persen. Memang masih sangat rendah dibanding dengan 4G yang sudah mencapai 97 persen,” jelas Wayan sebagaimana dilansir dari laporan ANTARA.