Khawatir Kesehatan Mental Anak, Nadiem bersikukuh Gelar Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah

Jakarta,Gpriority-Beberapa waktu yang lalu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya belum memberikan rekomendasi terkait Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di sekolah yang akan dilangsungkan pada Juli 2021.

Menurut Ketua Umum IDAI, Aman B.Pulungan, masih tingginya kasus Covid-19 di Indonesia yang melatarbelakangi kenapa IDAI tidak memberikan rekomendasi.” Salah satu persyaratan sekolah bisa kembali dibuka adalah terkendalinya transmisi lokal yang ditandai dengan positive rate kurang lebih 5% dan menurunnya angka kematian. Nah di Indonesia, positive ratenya masih di atas 5%, begitu pula dengan angka kematian yang masih naik turun. Untuk itulah IDAI menilai PTM belum aman diterapkan.

Senada dengan IDAI, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mengkritisi kebijakan Nadiem dan SKB 4 Menteri terkait PTM. Menurut Komisioner KPAI Retno Listyarti lewat keterangan tertulisnya pada Selasa (4/5/2021), PTM justru memperparah kondisi penyebaran Covid-19. Retno pun memberikan contoh SMAN 2 Kota Padang yang sudah melakukan PTM sejak Januari 2021. Selama PTM, KPAI mencatat ada 10 orang yang terpapar Covid-19. “ Untuk itulah kami meminta PTM ditinjau ulang,” jelas Retno.

Menanggapi pernyataan IDAI dan KPAI, Mendikbudristek, Nadiem Makariem dalam siaran persnya pada Rabu (5/5/2021) mengatakan bahwa dirinya tetap keukeuh untuk menggelar PTM pada tahun ajaran baru yakni Juli 2021.

Menurut Nadiem, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diterapkan selama setahun lebih dinilai tidak maksimal dan cenderung menjadi beban mental para murid. “Sudah jelas bahwa proses PJJ tidak efektif. Anak-anak terbebani secara mental karena kondisi belajar mengajar tidak dinamis, tanpa bertemu teman, dan kebosanan selalu di dalam rumah.Jika hal ini terus berlanjut, saya khawatir anak-anak tertinggal dalam pembelajaran, dan pastinya akan membahayakan perkembangan generasi masa depan,” jelas Nadiem.

Nadiem sendiri menjelaskan, meski mewajibkan bukan berarti Kemendikbudristek mewajibkan anak-anak untuk bersekolah kembali. Pasalnya untuk PTM di sekolah, para siswa harus mendapat restu dari orang tuanya.

Gubernur Anies Baswedan yang awalnya ragu mengenai PTM, justru berbalik mendukung. Menurut Anies dikutip dari republika.id, hadirnya PTM ini justru baik untuk proses pendidikan ke depannya. Untuk itulah uji coba PTM di Jakarta masih tetap dilanjutkan.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana juga menyebutkan bahwa selama uji coba PTM hingga saat ini belum ada komplain dari orang tua. “ Alhamdulillah semua berjalan lancar dan orang tua murid hingga saat ini masih memberi izin. Kami berharap PTM bisa menjadi solusi yang sangat efektif di tengah kebosanan siswa selama belajar PTT,” tutp Nahdiana. (Hs)

Related posts