Jakarta, GPriority.co.id – Menkomdigi (Menteri Komunikasi dan Digital) Meutya Hafid mengungkap adanya aliran dana besar dari judol (judi online) untuk provokasi demo.
Meutya menerangkan, narasi yang dibangun bukan hanya sekadar ujaran kebencian, melainkan juga ajakan untuk penjarahan, penyerangan, hingga isu-isu SARA. Pemerintah juga menemukan indikasi bahwa provokasi ini dimonetisasi dengan melalui fitur donasi serta gifts pada live streaming. Ditemukan juga beberapa akun yang terhubung dengan jaringan judi online.
“Kami juga memantau adanya aliran dana dalam jumlah signifikan melalui platform digital. Konten kekerasan dan anarkisme disiarkan secara live streaming. Bahkan, beberapa akun yang terlibat juga terhubung dengan jaringan judi online,” ungkapnya.
Selanjutnya Meutya secara tegas mengatakan jika pemerintah akan tetap menghormati semua aspirasi masyarakat yang disampaikan selagi tertib. Namun ia juga mengungkap adanya kelompok yang dengan sengaja digerakkan demi menciptakan konten anarkis.
Meutya mengimbau masyarakat untuk tak mudah terpancing atau menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi kebenarannya. Ia menilai, saat ini ruang digital harus elalu dijaga bersama guna tetap sehat, aman, serta tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang berniat memecah belah bangsa Indonesia.
Sebagai informasi, akibat demo yang terjadi, fasilitas umum seperti tujuh halter TransJakarta terbakar. Diduga, hal ini akibat provokasi dari oknum tak bertanggung jawab. Akibatnya, menurut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, menelan kerugian hingga Rp55 miliar.
Tak sampai disitu, akibat demo terdapat 7 korban meninggal dunia di Jakarta, Makassar, Yogyakarta, hingga Solo. Pemicunya ialah ekskalasi massa yang tak terkendali karena memprotes kenaikan gaji dan tunjangan anggota DPR RI.
Begitupun dengan penjarahan rumah-rumah anggota DPR RI mulai dari Ahmad Sahroni, Uya Kuya, Eko Patrio, hingga Menteri Keuangan Sri Mulyani. Presiden Prabowo menyayangkan aksi unjuk rasa yang terjadi mengarah ke anarkis. Dirinya pun mengaku siap bertindak lebih tegas untuk menyikapi dan mencegah aksi serupa terjadi lagi nantinya.
