Miris! 9,9 Juta Gen Z Indonesia Jadi Pengangguran

Miris! 9,9 Juta Gen Z Indonesia Jadi Pengangguran Miris! 9,9 Juta Gen Z Indonesia Jadi Pengangguran

Jakarta, GPriority.co.id – Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), menujukkan fakta mencengangkan. Pasalnya, 9,9 juta Gen Z Indonesia dilaporkan jadi pengangguran di tahun 2024 ini.

Menurut data tersebut, 9,9 juta Gen Z Indonesia (rentang usia 15-24 tahun), sedang menganggur alias Not in Employement, Education, or Training (NEET). Jika dirinci lebih detail, sebanyak 9,9 juta penduduk tersebut merupakan 22,25% dari total penduduk Indonesia sebanyak 44,47 juta jiwa.

Fenomena ini tak henti-hentinya menjadi sorotan. Banyak juga yang menilai bahwa Gen Z Indonesia dinilai pemalas dan terlalu pilih-pilih pekerjaan.

Pencari kerja Gen Z di Indonesia / Foto : Istimewa

Kendati demikian, sebagian masyarakat juga menilai bahwa hal ini disebabkan oleh penyerapan tenaga kerja yang kian melambat.

Dilansir dari data milik Tim Jurnalisme Kompas, terdapat tren penurunan penciptaan lapangan kerja formal dalam 15 tahun terakhir.

Penurunan penyerapan lapangan kerja ini disinyalir membuat anak muda yang baru lulus, lebih sulit mendapatkan pekerjaan.

Data tersebut didukung oleh pernyataan dari Wakil Ketua Umum Apindo Bidang Ketenagakerjaan, Bob Azam.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi 5% per tahun saat ini hanya setara dengan penyerapan 1 juta pekerja. Hal ini sangat berbeda dengan masa kejayaan industri manufaktur pada tahun 1990-an.

Jumlah Penyerapan Kerja di Indonesia Menurun Drastis

Di tahun 1990-an, jumlah penyerapan kerjanya sebanyak 600 ribu pekerja tiap 1% pertumbuhan ekonomi. Sedangkan saat ini, tiap 1% pertumbuhan ekonomi penyerapan tenaga kerja hanya sebesar 200 ribu pekerja.

Padahal, jumlah penyerapan tenaga kerja tersebut tidaklah sebanding dengan jumlah angkatan kerja baru yang bisa mencapai lebih dari 2,5 juta orang per tahunnya.

Disisi lain, menurut Shinta W Kamdani, Ketua Apindo, saat ini terdapat ketimpangan penyerapan tenaga kerja di tengah meningkatnya investasi padat modal.

Hal tersebut menyebabkan penurunan serapan tenaga kerja selama 2013 hingga 2022 lalu.

Di tahun 2013, sebanyak 4.594 tenaga kerja diserap tiap Rp1 triliun investasi. Sedangkan pada 2024, hanya 1.379 tenaga kerja yang diserap tiap Rp1 triliun investasi.

Perlu diakui, investasi pada modal memang memerlukan tenaga kerja dengan keterampilan tinggi.

Sayangnya, pasar tenaga kerja Indonesia masih didominasi pencari kerja dengan keterampilan rendah.

Menurut laporan, investasi terbesar di Indonesia berasal dari sektor Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi.

Disisi lain, penyerapan tenaga kerja juga melemah karena banyaknya perusahaan yang menetapkan kualifikasi dan persyaratan melamar kerja yang tinggi.

Diantaranya seperti pembatasan usia, kualifikasi jenjang pendidikan tinggi untuk sektor informal, dituntut memiliki beragam keterampilan, serta adanya minimum durasi pengalaman kerja.

Saat ini Indonesia juga sedang dihadapi oleh badai PHK yang membuat sebanyak 52.993 tenaga kerja kehilangan pekerjaannya, pada Januari hingga September 2024.

Foto : Istimewa