Pedagang Terlilit Kerugian Besar

Semakin hari semakin banyak korban covid-19. Penyebaran terjadi sangat cepat dan sangat mengkhawatirkan masyarakat. Tidak sedikit masyarakat yang terdampak akibat virus corona. Para pekerja banyak di-PHK; para buruh yang semakin sulit mendapatkan uang untuk menghidupi anak dan istri di rumah.

Di Kampung Nanggewer, Supiandi (35) salah satu wirausaha yang menjual sembako di Kampung Nanggewer sudah menjalankan usahanya selama 15 tahun. Suapiandi mengaku, sebelum pandemi covid-19, ia belum pernah sebanyak ini ia mendapatkan kerugian. Namun, sejak pandemi covid-19 ini, banyak warga di sekitar warungnya mulai berhutang sembako. Ini berdampak pada warung penghasilan Supiandi.

Seperti biasa, pukul 10.00 Supiandi (35) membuka warung kecilnya di Kampung Nanggewer, Kab. Bogor, Rabu (13/05). Saat sedang merapihkan barang-barang yang berserakan, datang seorang pembeli dengan menyebutkan beberapa barang yang ia inginkan. Supiandi pun mulai menghitung sambil memasukkan barang tersebut satu persatu ke dalam kantong plastik hitam. Pembeli bilang ia berhutang dulu, nanti sore jika suaminya mendapatkan uang, maka ia akan segera membayarnya. Supiandi pun mengiyakan saja.

“ Emang beda dari biasanya, sebelum pandemi sekarang ini, biasanya ramai, kalau sekarang sudah beda, dan orang yang beli harus dalam keadaan memakai masker dan dengan jarak 1 meter. Kadang, sekalinya ramai, banyak yang berhutang sembako,” ujar Supiandi.

Terkadang Supiandi memberikan batasan untuk berhutang sembako, sebab uang hasil penjualan akan diputar untuk membeli sembako kembali di salah satu toko grosir. Tidak sedikit yang mengeluh atas keputusan Supiandi, tapi, ia harus tegas. Jika tidak tegas terhadap utang, usahanya akan bangkrut. Akhirnya, warga yang diberi utang hanya warga yang benar-benar membutuhkan saja, dan memiliki track record yang baik dalam membayar utang.

“ Yang saya lakukan ketika warga berhutang, tetap dikasih hutang, Cuma dilihat dulu orangnya, kan ada orang yang suka berhutang tapi malas bayar padahal punya uang, kalau saya ngutangin ke warga untuk yang benar-benar membutuhkan saja. Karena banyak banget warga sini yang kurang mampu, jadi kadang saya suka kasihan, takut keluarganya ngga bisa makan di rumah,” kata Supiandi.

Supiandi tidak menyalahkan keadaan karena kerugian yang ia terima.  “Saya tidak menyalahkan keadaan juga, sih. Ya, mungkin Tuhan sedang menampar saya, karena kemarin-kemarin keuntungan yang saya dapat ada hak orang lain, tapi tidak saya berikan. Makanya saya diberikan ujian berupa kerugian di tengah masa pandemi ini,” ujar Supiandi.

Pada bulan puasa, biasanya Supiandi memberikan THR kepada warga. Pada puasa tahun ini, hal itu tidak ia lakukan karena, penghasilannya berkurang dan banyak yang berutang. Supiandi mengaku harus memutar otak untuk tetap berjualan seperti biasa. Pada bulan puasa, Supiandi memanjangkan waktu operasional warungnya. Ia membuka warungnya pada pukul 10.00-04.00 keesokan harinya. Hal ini dilakukan mempermudah banyak keluarga yang membutuhkan bahan makanan seperti mie instan dan telur ayam.

“Mudah-mudahan Tuhan segera menghilangkan wabah ini, supaya kita semua bisa aktivitas seperti biasa,” ujar Supiandi sambil menyusun kardus mie dengan raut wajah yang murung.( Lola Novita Sari, Mahasiswi Sastra Indonesia FISIB Universitas Pakuan)

Related posts