Serat Jiwa Penanda 40 Tahun Perjalanan Karya Biranul Anas Zaman

Jakarta,Gpriority-Pameran “Serat Jiwa” merupakan pameran yang digelarnDirektorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal ini Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Kesenian, dan Galeri Nasional Indonesia untuk memperingati 40 tahun perjalanan karya Biranul Anas Zaman.

Pameran yang dikurasi oleh Kurator Rizki A Zaelani akan diresmikan oleh Hilmar Farid selaku Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud pada Senin, 25 Maret 2019 Pukul 19.30 WIB di Ruang Serba Guna Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur No. 14 Jakarta Pusat.

Dalam press tour yang digelar sebelum pembukaan pameran pada hari yang sama (25/3), Rizki A. Zaelani mengatakan, pameran ini akan menampilkan 20 karya seni serat (tapestry) hasil olah artistik Biranul Anas Zaman, serta artefak kain tenun tradisi (Sumba) dan dokumentasi sejarah yang dikumpulkan Biranul Anas Zaman. Menurut Rizki, karya-karya tersebut menunjukkan rentang jejak dan jarak tahun penciptaan yang cukup jauh (sejak tahun 1980–an), dan bisa dianggap mewakili alur perjalanan gagasan kreatif Biranul Anas, khususnya tentang karya-karya yang bersifat individual.

“Tema karya-karya yang ditampilkanpun berbeda, sebagian menunjukan kecenderungan karya yang bersifat abstrak. Biranul Anas, memang mendapatkan pengaruh dari tradisi seni rupa abstrak yang berkembang di lingkungan seni rupa ITB (Institut Teknologi Bandung). Sebagian karya lain mengandung gambaran simbol-simbol yang digubah dari bentuk-bentuk ragam hias yang hidup dalam tradisi penciptaan kain di Indonesia. Beberapa karya juga dikerjakan dengan bentuk-bentuk simbol [huruf] kaligrafi (Islam dan Jepang), dan bahkan beberapa mengandung gambaran figur yang bersifat realistik. Kecenderungan karya-karya tapestry Biranul Anas secara umum memang lebih menunjukkan karakternya yang simbolik-estetik, kecuali pada beberapa karya yang mengandung gambaran figur, ia menyisipkan komentar dan pandangan kritis dirinya terhadap situasi sosial budaya yang berkembang dewasa kini,” jelasnya.

Tahun 1970–an seperti dituturkan Rizki, khususnya di Amerika, serat (benang, kain) digunakan sebagai medium ekspresi seni yang bersifat individual terbedakan dari kebiasaan budaya yang menganggap kain (serat) sebagai pokok kebutuhan fungsional atau simbol-simbol nilai budaya yang bersifat komunal. Perkembangan seni dengan medium serat di tahun 1970–an merupakan hasil dari kajian ilmiah di bidang seni rupa dan berwatak puitik-estetik. Corak seni serat inilah yang diserap dan diterjemahkan dalam arus perkembangan seni rupa di Indonesia dan secara khusus mulai dikembangkan di lingkungan seni rupa Bandung, di ITB. Dalam proses adaptasi dan penerjemahan gagasan ekspresi yang bersifat puitik-estetik semacam itulah karir seni serat Biranul Anas dimulai.

Bagi perkembangan seni rupa Indonesia, medium serat punya kisah khusus yang berbeda tentunya dengan medan perkembangan seni rupa di Amerika terkait dengan keragaman budaya lokal di seluruh wilayah Indonesia. Di seni rupa ITB, pada awalnya, medium seratpun tak jadi bagian dari sistem pendidikan seni murni (fine art) melainkan jadi bahan kajian dan penelitian bidang pendidikan desain (desain tekstil). Namun kini seperti dituturkan Rizki, jadi pendidikan kriya tekstil. Biranul Anas pun menjadi sosok bagian penting dalam sejarah pendidikan desain tekstil di Indonesia.

“Perjalanan karya-karya Biranul Anas adalah sebuah gambaran pengalaman yang unik, saya membayangkannya ibarat hasil jalinan serat-serat yang membentuk selembar kain yang memiliki makna dan simbol estetik yang penting,” ungkap Rizki.

Kain yang mencerminkan lembaran perjalanan karya Biranul Anas, dalam bayangan Rizki, terdiri dari dua jenis benang yang terjalin erat dan kuat pada dua arah sumbu bentangan (verikal dan horizontal). Benang-benang yang membentang vertikal adalah sumbu prinsip estetik yang terdiri dari ‘benang’ yang dipilin dari dua jenis unsur yang menyatu, yaitu: seni (art) dan kriya (craft). Sedangkan tumpukan susunan benang yang membentang secara horizontal adalah jalur-jalur pemikiran desain berupa ‘benang’ yang dipilin dari dua jenis bahan, yaitu: prinsip sains dan aplikasi prinsip teknologi. Kain tenun yang menggambarkan perjalanan karya Biranul Anas ini memiliki raut dan tekstur permukaan yang khas, menjelaskan dinamika struktur gagasan dan inspirasi penciptaan karya Biranul Anas yang ‘keluar – masuk’ dalam ranah-ranah prinsip estetika (seni dan kriya) dan pemikiran sains (desain dan teknologi). Perjalanan karya yang khas ini mengandung gambaran tentang karangka berpikir yang mengandung sifat percabangan (split) dan pepasangan (duality). Gambaran ini menunjukan proses pergulatan antara: pertimbangan dimensi personal yang khusus dan dimensi sosial yang bersifat umum; antara nilai ekspresi yang bersifat individual dan nilai fungsi yang bersifat komunal. Kerangka berpikir dengan sifat percabangan dan pepasangan yang khas serta berfungsi secara produktif inilah yang membentuk dimensi intelektualitas Biranul Anas hingga dirinya memperoleh gelar penghargaan tertinggi secara akademik sebagai seorang profesor dalam bidang kriya dan desain tektsil.

Pameran “Serat Jiwa” akan berlangsung hingga 7 April 2019 di Gedung D Galeri Nasional Indonesia. Publik dapat mengapresiasi karya-karya dalam pameran ini mulai pukul 10.00 s.d. 19.00 WIB. Selain pameran, publik juga dapat mengikuti Wicara Seniman dan Lokakarya Tapestry & Macrame Lace Making pada Kamis, 28 Maret 2019, pukul 12.00 WIB hingga selesai, di Ruang Serba Guna Galeri Nasional Indonesia.(Hs.Foto:Hs)

Related posts