Setiap kita adalah Ibrahim dan setiap Ibrahim punya Ismail

Hari Raya Idul Adha atau Idul Qurban merupakan hari raya umat muslim yang diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Pada kalender masehi tahun 2020, Idul Adha jatuh pada hari Jum’at (31/7/20). Biasanya Idul Adha selalu dikaitkan dengan peristiwa bersejarah dan mengharukan Nabi Ibrahim a.s yang hampir menyembelih putranya, Nabi Ismail a.s.

Ketika Idul Adha tiba, kaum muslimim yang mampu akan melaksanakan ibadah haji dan melakukan wuquf di padang Arafah, menggunakan kain ihram.

Bagi umat muslim yang belum mampu mengerjakan ibadah haji, maka ia diberi kesempatan untuk melaksanakan kurban, dengan menyembelih hewan qurban seperti sapi, kambing, domba dan unta sebagai simbol ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Nabi Ibrahim merupakan putra Aazar (Tarih) bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh AS.

Kelahiran Nabi Ismail merupakan sebuah penantian berharga dan jawaban dari doa-doa Nabi Ibrahim dengan istrinya, Siti Hajar. Pasalnya setelah bertahun-tahun menikah, Nabi Ibrahim dengan istrinya yang bernama Siti Sarah tak kunjung memiliki momongan. Sejak saat itu Siti Sarah mengenalkan sendiri suaminya dengan budaknya yang bernama Siti Hajar untuk menikah. Akhirnya mereka menikah dan ketika Nabi Ibrahim berumur 86 tahun, Siti Hajar melahirkan seorang putra yang diberi nama Ismail.

Selang beberapa waktu kelahiran anaknya, Nabi Ibrahim atas perintah Allah membawa Siti Hajar dan Nabi Ismail pindah dari Palestina menuju Mekkah.

Sikat cerita, ketika Nabi Ismail beranjak dewasa, Nabi Ibrahim mendapatkan sebuah mimpi atau wahyu dari Allah SWT untuk menyembelih putra semata wayangnya. Ujian tersebut tentunya membuat hati Nabi Ibrahim resah, bagaimana ia bisa mengorbankan putra yang selama ini ia dambakan dan nantikan kehadirannya untuk disembelih oleh ayahnya sendiri.

Nabi Ibrahim juga merenung dan mempertanyakan mimpi tersebut datang dari Allah atau bukan. Kejadian tersebut datang pada tanggal 8 Dzulhijjah, dimana pada saat ini diperingati dengan menjalankan puasa sunah Tarwiyah (merenung).

Keesokan harinya di tanggal 9 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim mendapati mimpi yang sama untuk mengorbankan anaknya. Kini ia merasa lebih yakin bahwa mimpi itu adalah wahyu dari Allah SWT. Di hari itu pun kini dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunah Arafah (pengetahuan).

Akhirnya pada tangal 10 Dzulhijah, Nabi Ibrahim mengumpulkan niat untuk menyembelih anaknya. Nabi Ismail yang merupakan anak yang shaleh dan taat kepada orang tuanya langsung mengiyakan perintah tersebut, dan menyerahkan jiwa serta raganya hanya kepada Allah SWT.

Selama proses tersebut Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail mengalami gangguan dari setan, untuk melemahkan iman mereka dan menggagalkan rencana penyembelihan tersebut. Mereka kemudian melempari setan yang menggoda tersebut menggunakan batu, saat ini dikenal sebagai lempar Jumrah yang dilakukan ketika ibadah haji.

Upaya setan pun gagal, akhirnya Nabi Ibrahim tetap melanjutkan tugas yang diembannya dan pergi ke tanah lapang bersama Nabi Ismail. Nabi Ibrahim juga sudah menyiapkan pisau yang sangat tajam, hal tersebut bertujuan agar ketika disembelih Nabi Ismail tidak mengalami kesakitan.

Namun, ketika Nabi Ibrahim hendak menyembelih, pisau yang sudah diasah tajam tersebut tiba-tiba menjadi tumpul dan terpental mengenai leher Nabi Ismail. Melihat kejadian itu, Nabi Ismail pun meminta kepada ayahnya untuk menelungkupkan wajahnya agar tak terlihat oleh Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim pun menuruti perkataan anaknya, namun untuk yang kedua kalinya pisau tersebut masih tetap tumpul dan tidak sedikitpun menyakiti Nabi Ismail.

Pada saat itu Nabi Ibrahim merasa bingung dan turunlah firman Allah yang terdapat dalam surat As-Saffat ayat 104-107: “dan kami panggillah dia : Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu, sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan besar”.

Kemudian Allah SWT melalui malaikat Jibril menggantikan Nabi Ismail dengan seekor kambing yang ada disampingnya, serta memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih kambing tersebut. Pada saat itu, dituliskan bahwa semesta beserta isinya mengucapkan takbir dan meng-agungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran yang dimiliki oleh Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah yang berat tersebut. 

Ujian tersebut merupakan awal mula sejarah berqurban yang saat ini dirayakan setiap tahunnya oleh umat muslim pada saat Idul Adha tiba. (Dwi)

Related posts