Suku Talang Mamak Hidup Menyatu Dengan Alam

Suku Talang Mamak merupakan satu dari lima suku asli yang telah ada sejak dahulu di Riau. Suku ini tergolong tua bersama keempat suku lainnya yakni Suku Laut, Suku Bonai, Suku Sakai, dan Suku Akit. Data Aliansi Masyarakat Adat (AMAN) pada 2015 menyatakan populasi penduduk Suku Talang Mamak 18.000 jiwa.

Suku Talang Mamak tersebar di empat kecamatan yaitu : Kecamatan Batang Gangsal, Cenaku, Kelayang dan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu Riau. Dan satu kelompok berada di dusun Semarantihan, Desa Suo-Suo, Kecamatan Sumai, Kabupaten Tebo, Jambi.

Secara umum, kehidupan suku Talang Mamak bergantung kepada sumber daya hutan yang merupakan tempat berburu dan meramu serta asal sumber daya alam yang mereka olah untuk dikonsumsi. Sejak dulu Suku Talang Mamak sudah mengenal sistem perladangan tradisional. Ritual gotong royong untuk membuka ladang dinamakan Basolang.

Tanah dan hutan bagi suku Talang Mamak merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat dipisahkan. Sejak beratus-ratus tahun mereka hidup damai dan menyatu dengan alam. Mereka hidup dari mengumpulkan hasil hutan dan melakukan perladangan berpindah. Sejak dulu mereka berperan dalam penyediaan permintaan pasar dunia.

Sejak awal abad ke-19 pencarian hasil hutan meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan dunia terhadap hasil hutan seperti jernang, jelutung, balam merah/putih, gaharu, rotan. Tetapi pada abad ke-20 hasil hutan di pasaran lesu atau tidak menentu, namun ada alternatif ekonomi lain yaitu mengadaptasikan perladangan berpindah dengan penanaman karet. Penanaman karet tentunya menjadikan mereka lebih menetap dan sekaligus sebagai alat untuk mempertahankan lahan dan hutannya.

Meskipun mereka hidup secara tradisional, namun untuk masalah pengobatan bisa diandalkan. Hasil ekspedisi biota medika (1998) menunjukkan suku Talang Mamak mampu memanfaatkan 110 jenis tumbuhan untuk mengobati 56 jenis penyakit dan mengenali 22 jenis cendawan obat. (VIA)

 

Related posts