Tren Cuci Darah Di Usia 25-35 Tahun Kian Menjalar, Ternyata Cuma Gegara Konsumsi Ini!

Jakarta, GPriority.co.id – Cuci darah atau dalam bahasa kedokterannya disebut hemodialisis, merupakan prosedur perawatan untuk menyaring limbah dan air dari darah, sama halnya seperti fungsi ginjal dalam tubuh. Seseorang yang harus melakukan cuci darah, diakibatkan karena mengalami kondisi gagal ginjal kronik.

Bukan hanya akan menguras keuangan, cuci darah juga dikenal sebagai prosedur yang dapat menyita tenaga, waktu, pikiran. Cuci darah akan dilakukan, ketika fungsi ginjal seseorang hilang sebanyak 85-90 persen.

Mirisnya, saat ini tren cuci darah di usia muda mulai dari 20-35 tahun, semakin menjalar, berkat pola hidup yang sembarangan. Hal ini diungkapkan oleh seorang dokter dan pebisnis Indonesia, dr. Tirta.

Dalam podcast bersama Praz Teguh di saluran HAS Creative, dr.Tirta awalnya membahas mengenai permasalahan gula.

“Jadi gini, semua gula itu kan energi. Gula itu kita punya pilihan untuk intake (mengonsumsi) nya dari mana. Kalau kita itu sudah memakan gula dari nasi, jangan meminum-minuman yang mengandung gula,” jelasnya.

Lebih lanjut dr.Tirta mengatakan penyebab diabetes pada anak muda ialah karena mengonsumsi minuman manis dalam kemasan. Hingga akhirnya di masa tua, harus menjalani proses cuci darah.

“Bukan karena nasi sebenarnya. Kasihan nasi dihujat terus. Yang salah itu minuman manis, yang instan dalam botol. Bayangkan, dalam satu minuman manis di botol itu gulanya bisa 20 gram-an. Anak muda di usia 20-an belum berasa efeknya. Tapi nanti di usia 40 (tahun) tiba-tiba cuci darah,” jelas dr.Tirta.

Dr. Tirta mengatakan, informasi ini juga disampaikan oleh dr. Deksa, yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam sub-ginjal.

“Dia mengatakan ada tren hemodialisa di usia 25-35 (tahun). Dan riwayatnya mereka itu minum-minuman manis yang dalam botol. Kalau nasi, masih bisa berubah ke energi,” ungkapnya.

Untuk menjauhkan diri dari hal ini, selain menghindari minum minuman manis, dr.Tirta juga menyarankan untuk dapat melakukan olahraga sehari-hari.

“Caranya untuk mengatur itu sebenarnya dengan olahraga. Mulai dari jalan kaki 5000 langkah per-harinya. Kalau sudah bisa konsisten jalan kaki, baru bisa lari, bulutangkis, bola, basket, atau mau gym,” jelasnya.

Foto : Ilustrasi / Shutterstock