apakah herd immunity perlu

Jakarta,gpriority-Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai membuat beberapa negara menerapkan berbagai strategi untuk memutus penyebaran virus tersebut, seperti PSBB, lockdown, social distancing, rapid test massal, hingga herd immunity yang saat ini sedang diperbincangkan.


Herd immunity atau kekebalan kelompok adalah suatu populasi yang memiliki kekebalan tubuh terhadap virus. Kekebalan tubuh bisa didapatkan secara alami pada saat seseorang pernah terinfeksi dan pulih dari virus tersebut.


Setelah sembuh, tubuh akan membentuk dan memiliki antibodi untuk melawan virus penyebab infeksi tersebut. Semakin banyak orang yang terinfeksi dan sembuh, semakin banyak pula orang yang kebal dan herd immunity pun akan terbentuk. Penerapkan strategi herd immunity ini dengan cara menginfeksi penduduk secara langsung, yaitu dengan membiarkan sampai 70% populasi terinfeksi Covid19 sehingga akan mendapatkan kekebalan antibodi secara alami.


Tujuannya membiarkan orang tertular sampai mendapatkan kekebalan virus. Jika virus terus menyebar, pada akhirnya banyak orang yang akan terinfeksi dan jika mereka bertahan hidup maka menjadi kebal.


Dengan cara itu, virus akan kesulitan menemukan inang yang rentan hingga akhirnya bisa menghentikan wabah. Namun, terbentuknya herd immunity secara alami ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan memiliki resiko yang besar.

Menggunakan konsep ini tentunya memiliki dampak negatif dan positif bagi masyarakat.

Dampak negatifnya adalah bagi sebagian orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah bisa terancam meninggal dunia karena tak kebal terhadap virus, sehingga akan ada kematian massal dan kehilangan penduduk lebih dari separuh populasi, akibatnya rumah sakit dan fasilitas kesehatan akan kewalahan.


Positifnya akan ditemukan kehidupan baru dimana terdapat manusia baru yang kebal terhadap virus sehingga pandemi akan cepat berakhir.


Sejauh ini ada beberapa negara yang menerapkan herd immunity, seperti Swedia yang sudah menggunakan herd immunity namun hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi. Sejauh ini di Swedia hanya ada 7,3% orang dari 60% yang punya antibodi untuk melawan virus tersebut. Saat ini kasus Covid-19 di Swedia juga tinggi dengan total 33.843 kasus, 4.029 jumlah kematian, dan 4.971 kesembuhan.


Setelah Swedia ada juga Belanda yang sudah menerapkan herd immnunity. Perdana Menteri Belanda Mark Rutte sempat mengatakan bahwa lockdown total tidak cocok untuk Belanda. Sejauh ini sudah ada 45.445 jumlah kasus yang terkonfirmasi dengan 5.830 kematian.


Selain Belanda dan Swedia, Negara Inggris juga sempat menerapkan herd immnunity. Namun setelah berjalan selama beberapa minggu, Inggris menarik kembali strategi itu, karena jika diterapkan konsep ini dinilai memiliki resiko tinggi dan kemudian menerapkan lockdown. Saat ini jumlah kasus Covid-19 di Inggirs mencapai 276.156 kasus yang terkonfirmasi.( Dwi)

Related posts