Bappenas Gelar Knowledge Sharing dengan Libya Bidang Perikanan


Jakarta,GPriority-Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Sebagai negara maritim tentu saja perikanan Indonesia sangat berlimpah.

Inilah yang membuat negara-negara di Afrika seperti Libya berkeinginan untuk melakukan kerja sama dengan Indonesia melalui Kerja sama Selatan-selatan dan Tringuluar (KSST).

Dalam rangka membahas penguatan-penguatan program KSST serta knowledge sharing, Kementerian PPN/Bappenas mengundang delegasi Libya di ruang Rapat DH-45,Grdung Gedung Bappenas Menteng.

Hadir dalam kesempatan tersebut sejumlah tamu undangan seperti Dr.Ir.Wisnu Utomo,M.Sc., Direktur Politik Luar Negeri dan Kerja Sama Pembanvhnan Internasional Kementerian PPN/Bappenas,Ir.Josaphat Rizal P.,Msc, Deputi Bidang Kemaritiman dan SDA, Kementerian PPN/Bappenas, Dubes Libya untuk Indonesia, Faroq Darbil Amer, Ketua Umum Kadin Libya dan seluruh tamu undangan yang hadir.

Dalam sambutannya, Wisnu Utomo mengatakan, sebagai Kementerian yang bertugas dalam menyusun perencanaan, Bappenas memiliki peran sebagai pelaksana dalam KSST ini.” KSST ini merupakan bagian dari pelaksanaan UUD 1945 dan konferensi 1955,” ucap Wisnu.

KSST seperti dijelaskan oleh Wisnu diarahkan untuk mendukung perdagangan dan investasi melalui partisipasi swasta.” Jadi saya kira kunjungan dari Libya ini sangat pas sekali disaat Indonesia kembali membuka investasi luar negeri,” jelas Wisnu.

Sementara Ir. Josaphat Rizal P.,Msc, bahwa Libya bukanlah pemain baru di kancah kerja sama Internasional. Karena sejak tahun 1955 sudah melakukan kerja sama dengan Indonesia.

” Selain alasan lainnya adalah Libya pada saat ini tengah tumbuh perekonomiannya sehingga mampu menjadi market bagi Indonesia,” jelas Josaphat Rizal.

Menandai 21 tahun hubungan dengan Libya, Pemerintah Indonesia kembali menjalin hubungan kerja sama, kali ini hubungan dilakukan dengan Kadin Libya. Dijelaskan oleh Josaphat, hubungan dagang dengan Libya lebih ke arah perikanan.” Kenapa perikanan? Karena mereka melihat negara kita negara maritim. Namun tidak menutup kemungkinan mereka juga akan melakukan kerja sama di sektor lainnya termasuk pertanian,” ujar Josaphat Rizal.

Josaphat juga mengatakan bahwa kerja sama dengan Libya diharapkan sebagai pembuka jalan bagi masuknya investor lainnya terutama negara-negara Selatan ke Indonesia. Karena mereka melihat Indonesia sebagai suatu produsen yang cukup besar di dunia perikanan.(Hs.Foto.Hs)

Related posts