Indonesia Kembali Tegaskan Komitmen Menuju Net-Zero Emission Pada 2060

Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, pada agenda "2nd Indonesia-Mekong Basin Connect Forum: Energy Security Cooperation in the Region" yang berlangsung di Tangerang Selatan, Kamis (16/10)/Foto : GPriority (Nindya Farhah Azzahrah) Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, pada agenda "2nd Indonesia-Mekong Basin Connect Forum: Energy Security Cooperation in the Region" yang berlangsung di Tangerang Selatan, Kamis (16/10)/Foto : GPriority (Nindya Farhah Azzahrah)

Tangerang, GPriority.co.id – Pemerintah Indonesia kembali menegaskan komitmen untuk menuju net-zero emission pada 2060 mendatang.

Komitmen tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Eniya Listiani Dewi, pada agenda “2nd Indonesia-Mekong Basin Connect Forum: Energy Security Cooperation in the Region” yang berlangsung di Tangerang Selatan, Kamis (16/10).

“Presiden punya visi jelas terkait transisi energi yang bersih serta target besar yang harus dicapai. Seperti 100 gigawatt energi surya yang akan masuk ke sistem nasional. Ini menjadi kesempatan besar bagi kita guna mempercepat pembangunan, investasi, juga impelementasi dari energi terbarukan,” ujar Eniya dalam pidatonya.

Dalam kesempatan tersebut, Eniya menekankan jika pemerintah Indonesia juga ingin memperkuat keamanan energi nasional. Mulai dari keamanan air serta pangan sebagai satu kesatuan. Ia menyebut, transisi menuju energi bersih menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang Indonesia guna menjaga ketahanan serta kemandirian energi.

Eniya melaporkan, saat ini porsi energi terbarukan pada bauran energi nasional telah mencapai 16 persen. Jumlah tersebut akan terus meningkat dalam satu dekade ke depan. Selain itu, pemerintah juga menargetkan tambahan 42,5 gigawatt energi terbarukan serta 10 gigawatt kapasitas penyimpanan energi.

Kini, Indonesia juga tengah menyiapkan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir pertama. Targetnya, akan beroperasi pada tahun 2032. Selain itu pemerintah Indonesia juga ingin memperluas pemanfaatan hidrogen serta amonia hijau sebagai sumber energi baru.

Sementara untuk mendorong efisiensi energi, Eniya menyebut pentingnya elektirifkasi serta digitalisasi sistem jaringan listrik guna menurunkan emisi hingga sebesar 37 persen.

“Khususnya pada wilayah timur Indonesia, tantangan biaya listrik tinggi masih ada. Saat ini kami tengah mempersiapkan sistem smart grid serta moratorium guna pembangunan pembangkit yang berbasis fosil,” ungkap Eniya.

Selain itu, pengembangan bioenergi seperti biodiesel, bioetanol, serta bioavtur, juga terus didorong guna mendorong terciptanya visi Indonesia sebagai pusat energi terbarukan atau renewable energy hub pada kawasan Asia.