Indonesia Tegaskan Komitmen Ratifikasi TPS-OIC, Mendag: Ini Penting!

Jakarta, Gpriority.co.id – Indonesia menegaskan komitmennya untuk melanjutkan dan menyelesaikan proses ratifikasi Sistem Perdagangan Preferensi–Organisasi Kerja Sama Islam (TPS-OIC). Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menyatakan hal ini penting untuk kemajuan OKI.

“Negara-negara OKI harus bersinergi memperkuat perdagangan intra OKI guna dapat bertahan di tengah kondisi ketidakpastian global dan gejolak geopolitik saat ini,” ujar Mendag Zulkifli Hasan dalam keterangan persnya, Rabu (12/6).

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Djatmiko Bris Witjaksono, yang menghadiri Pertemuan ke-3 Tingkat Pejabat Senior (SOM) Komite Perundingan Perdagangan (TNC) TPS-OIC pada 10 Juni, juga memandang penting peran TPS-OIC dalam memperkuat hubungan kerja sama dan meningkatkan perdagangan antar negara-negara anggota OKI.

Djatmiko memimpin Delegasi Indonesia pada pertemuan SOM sebagai pendahuluan sebelum rangkaian Pertemuan Tingkat Menteri TPS-OIC dan Pertemuan Informal Menteri D-8.

“Indonesia berkomitmen untuk melanjutkan proses ratifikasi TPS-OIC dalam rangka peningkatan perdagangan intra-OKI. Kami berpandangan, informasi penting terkait cakupan TPS-OIC perlu dibuka aksesnya bagi seluruh negara anggota OKI. Selain itu, pemanfaatan TPS-OIC juga perlu disosialisasikan untuk mendorong aksesi negara anggota lainnya dan turut berkontribusi dalam peningkatan perdagangan intra-OKI,” jelas Djatmiko.

Dalam pertemuan SOM TNC TPS-OIC, dibahas perkembangan implementasi TPS-OIC, khususnya oleh 13 negara anggota OKI yang telah menyelesaikan proses ratifikasi. Pertemuan juga membahas usulan Turki mengenai kemungkinan perluasan TPS-OIC. Selain itu, pertemuan ini menyiapkan draf Istanbul Ministerial Declaration untuk diadopsi pada Pertemuan Tingkat Menteri ke-3 TNC TPS-OIC yang akan dilaksanakan pada Selasa, 11 Juni.

Sebagai informasi, OKI beranggotakan 57 negara mayoritas berpenduduk Muslim dengan total populasi lebih dari 2 miliar jiwa dan total GDP lebih dari USD 7 triliun. Sebagai upaya peningkatan hubungan perdagangan intra-OKI, disepakati pembentukan perjanjian TPS-OIC, yaitu kerja sama penurunan tarif antar negara anggota OKI yang terdiri atas tiga dokumen: Framework Agreement, The Protocol on Preferential Tariff Scheme (PRETAS), dan The Rules of Origin (ROO). Saat ini, Indonesia telah meratifikasi Framework Agreement dan masih dalam proses melanjutkan ratifikasi PRETAS dan ROO.

Selama tahun 2023, total perdagangan Indonesia dengan negara anggota OKI mencapai USD 62,2 miliar, dengan ekspor Indonesia sebesar USD 33,2 miliar dan impor sebesar USD 29 miliar. Dengan demikian, Indonesia mendapatkan surplus perdagangan sebesar USD 4,2 miliar. Selama lima tahun terakhir (2019–2023), tren perdagangan menunjukkan peningkatan sebesar 16,5 persen.

Foto: Kemendag