Kisah Ika, Srikandi Dari Maluku Utara Yang Turut Berperan Dalam Menghadapi Covid-19

Jakarta,gpriority-Selain dokter dan tenaga medis, relawan juga bisa dikatakan sebagai garda terdepan dalam memerangi covid-19.

Untuk menjadi relawan sendiri bukanlah hal yang mudah, dituntut disiplin yang sangat tinggi agar tidak terpapar virus corona yang sedang mewabah di seluruh dunia.

Jasa besar mereka inilah yang akan diangkat. Dan untuk edisi ini redaksi mengangkat seorang relawan perempuan bernama Ika Dewi Maharani.

Ika Dewi Maharani merupakan wanita yang berasal dari Maluku Utara yang mendaftarkan diri menjadi sukarelawan medis perempuan di bawah naungan Relawan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Ia mendaftarkan diri menjadi relawan yang bertugas sebagai sopir ambulans.

Menurut Ika begitu ia biasa disapa dalam siaran persnya di Graha BNPB Jakarta pada Jum’at (17/4), Di Surabaya dirinya mendengar kabar bahwa dibutuhkan relawan seorang perawat yang juga bisa nyetir ambulans. Ika yang merasa jiwanya terpanggil dikarenakan jumlah pasien covid-19 di Jakarta yang semakin meningkat,segera mendaftarkan diri menjadi relawan medis sekaligus sopir ambulans. Dan setelah diterima dirinya pun berangkat ke Jakarta meskipun pada awalnya tidak disetujui keluarga.

” Saya memiliki basic sebagai perawat, tapi dikarenakan kurangnya tenaga relawan di bidang tersebut.Apalagi saya bisa menyetir, saya memilih menjadi supir ambulans,” ujar Ika.

Meski baru pertama kali, menjadi sopir ambulans merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan dalam hidupnya. Karena banyak sekali pengalaman yang dia dapatkan, salah satunya adalah kepekaan orang terhadap mobil ambulans.

“Ketika tengah menyetir ambulan dan membawa pasien tetapi jalan macet, saya membunyikan sirine, tapi saya lihat ada beberapa orang-orang di sekitar yang tidak peka untuk memberikan jalan buat kita. Untungnya ada orang dengan kesadaran tinggi yang mau membantu memberikan jalan, jadi kita tetap dengan cepat membawa pasien ke tempat yang dirujuk,” jelasnya.

Ika juga menyadari mengemban tugas mengantarkan pasien dalam pengawasan (PDP) atau pun pasien positif COVID-19 membuat Ika berisiko besar terinfeksi virus corona. Meskipun demikian Ika tetap menjalankan tugasnya dengan penuh semangat. Karena setiap kali menjalankan tugasnya itu, dia mengatakan “safety” adalah kunci utama. Untuk itulah penggunaan alat perlindungan diri (APD) menjadi wajib bagi Ika sebelum berangkat bertugas.

Meski telah mengenakan APD, sebagai manusia biasa, Ika mengaku tetap memiliki perasaan takut, namun dikarenakan semangat kemanusiaan yang dia rasakan jauh lebih tinggi, serta semangat pasien untuk sembuh, maka rasa takut tersebut hilang dengan sendirinya.
Selain penggunaan APD, Ika pun terus menjaga imunitas tubuh sebagai cara untuk melawan virus corona. Di tengah shift 12 jam yang dia jalani, Ika selalu menyempatkan diri untuk makan teratur dan istirahat yang cukup.

“Shift pagi dari jam 7 sampai jam 7 malam, itu pertama harus makan dulu. Selesai absen kita makan, ada panggilan untuk kita rujuk, setelah itu selesai, baru kita makan, yang penting makan harus sehari tiga kali, multivitamin, dan susu,” kata dia.

Dengan usaha terbaiknya mengabdikan dirinya sebagai sukarewalan Covid-19, Ika berharap pandemi tersebut dapat segera berakhir.

“Dengan kita mengabdikan diri sebagai relawan kita harap penanggulangannya ini semakin cepat, jadi bencana ini cepat akan berakhir,” tutur Ika.

Ika yang tinggal di mes selama di Jakarta juga mengakui merasa miris melihat banyaknya warga yang menolak jenazah pasien covid-19 terutama yang dari tenaga medis. Padahal tenaga medis itu jasanya sangat besar karena melayani masyarakat sementara pada saat meninggal akibat covid-19 tidak terlayani.

” Banyak teman-teman yang di luar mengeluh kok seperti ini.Bahkan diantara mereka sampai berkata kenapa kita ditolak masyarakat.padahal tugas yang diemban sangat mulia, untuk itulah kita berharap agar Corona bisa segera berakhir sehjngva kehidupan menjadi kembali normal,” tutup Ika.(Hs)

Related posts