Ondel-Ondel, Ikon Betawi yang Digunakan untuk Mengamen

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana melarang ondel-ondel digunakan untuk mengamen, karena dianggap merusak citra budaya betawi. Rencana larangan itu akan tercantum pada Perda Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi yang akan direvisi oleh DPRD DKI Jakarta.

Dulunya ondel-ondel dianggap oleh masyarakat betawi sebagai mitos untuk menolak bala atau gangguan roh halus.

Seiring berjalannya waktu ondel-ondel digunakan untuk acara-acara penting seperti, pesta rakyat, penyambutan tamu kehormatan, arak-arakan sunat, dan pernikahan. Namun saat ini ondel-ondel seperti kehilangan jati dirinya sebagai ikon kebanggaan Betawi, pasalnya sebagian orang menggunakan ondel sebagai alat untuk mencari nafkah seperti mengamen dan mengemis, tak jarang pula melibatkan anak-anak untuk meminta uang.

Lalu bagaimana awal mula ondel-ondel bisa dikenal dan menjadi penghias bagi kota Jakarta?

Ondel-ondel merupakan boneka besar yang terbuat dari keragka bambu dengan tinggi sekitar 2,5 meter, dengan diameter kurang lebih 80 cm, diduga sudah ada di Betawi sejak tahun 1600-an.

Dulunya ondel-ondel memiliki wajah yang seram dan menakutkan, lantaran digunakan oleh masyarakat sekitar untuk menolak gangguan dari roh halus yang gentayangan. Namun sejak pemerintahan Gubernur DKI Jakarta yang ke-7 Ali Sadikin, kini wajah ondel-ondel sudah tidak menakutkan dan terlihat, lebih ramah dan bersahabat.

Perbedaan jenis kelamin ondel-odel bisa dikenali dari warna wajahnya, laki-laki berwarna merah sedangkan perempuan berwana putih. Kemudian di dalamnya ada manusia yang membuat ondel-ondel bisa bergerak.

Dibagian dada ondel-ondel terdapat celah kecil yang digunakan oleh seseorang yang berada di dalam untuk melihat keadaan sekitar. Hal ini tentunya memiliki makna tersendiri didalamnya dan dijadikan sebagai mata ketiga si ondel-ondel. Yaitu dengan adanya mata yang terletak dibagian dada memberikan kesadaran bahwa kita harus melihat orang dari hatinya tidak hanya dari wajahnya saja. Rambut ondel-ondel yang terbuat dari serabut kelapa atau ijuk ini juga terdapat makna didalamnya. Karena terbuat dari serabut kelapa, yang notabene buah kelapa ini semua bagiannya bisa dimanfaatkan, ini menandakan bahwa manusia harus bermanfaat bagi sesama.

Pada tahun 1990-an masyarakat Jakarta sering melihat pementasan ondel-ondel di jalanan, namun pada awal tahun 2000 an pementasan tersebut sudah jarang ditemui. Pertunjukkan ondel-ondel ini juga pasti ada musik pengiringnya, ada yang diringi oleh tanjidor, pencak Betawi, Bende, “Remes”, Ningnong, dan Reban ketimpring.

Pada tahun 1900 nama ondel-ondel ini dulunya adalah boneka raksasa atau barongan yang memiliki wajah seram dengan rambut yang terbuat dari injuk. Namun sejak mendiang Benyamin meliris lagu yang berjudul “Ondel-Ondel” secara perlahan masyarakat mengubah kebiasaan yang awalnya menyebut boneka raksasa atau barongan menjadi ondel-ondel.(Dwi)

Related posts