Potensi Terapeutik Seni dalam Proses Kreasi dan Apresiasi di Masa Pandemi Covid-19

Jakarta,gpriority-Work From Home (WFH) Situasi membuat lama kelamaan menimbulkan rasa bosan, kesepian, stres, atau bahkan depresi.

Namun, hal tersebut sebenarnya bisa dicegah atau dikurangi dengan terapeutik seni. Hebatnya, terapeutik sini juga bisa dilakukan secara mandiri di rumah.

Bahasan inilah yang diangkat Galeri Nasional Indonesia dalam program Bicara Rupa “Potensi Terapeutik Seni dalam Proses Kreasi dan Apresiasi di Masa Pandemi Covid-19” pada Minggu, 31 Mei 2020 via Zoom dan live Facebook Galeri Nasional Indonesia. Program ini dipandu oleh pasangan Dosen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung yaitu A. Rikrik Kusmara dan Irma Damajanti.

Saat membuka acara, Rikrik mengungkapkan, “Seni atau the arts adalah ranah disiplin yang luas, yang secara ontologis terbagi dalam dua kegiatan fundamental, yaitu the world of making dan the world of knowing.” “The world of making” sebagai proses dan kerja kreatif, seni adalah sebuah disiplin penciptaan yang menghasilkan objek atau karya estetik yang memiliki nilai filosofis, sosial, fungsional, dan kultural yang ditujukan untuk memperkaya nilai-nilai dan taraf hidup kemanusiaan. Sedangkan seni sebagai “the world of knowing” berkaitan dengan dunia pengetahuan dan praktik kesenian yang melibatkan proses kajian, penelitian, pembelajaran, pengajaran, pengembangan, penyebarluasan, dan pemeliharaan yang ditunjang oleh berbagai bidang seperti filsafat, estetika, ilmu pengetahuan (sains, humaniora), teknologi, manajemen, etika, maupun keagamaan.


Nilai-nilai intrinsik seni merupakan bentuk “penilaian” atau worldview melalui proses dan metode yang melibatkan kreativitas, intuisi, intelektualitas serta keterampilan yang melibatkan dimensi teknologi dan ilmu pengetahuan (sains) sebagai refleksi kritis untuk menemukan jawaban dan pemecahan sebuah masalah secara inovatif terhadap fenomena yang terjadi dalam realitas atau konteks budaya lokal maupun global, dimensi sosial, ekonomi, politik, sejarah, estetika, kemanusiaan dan moralitas, yang diwujudkan menjadi objek dan luaran visual, auditori, kinestetik, bentuk rancangan, produksi benda-benda, medium komunikasi dengan berbagai fungsi dan tujuannya.

Pendekatan atau cara “seni” tersebut menjadi cara dan kualitas lain untuk mengungkapkan hal-hal yang tidak cukup dikomunikasikan secara lisan. Senada dengan Rikrik, Irma juga mengatakan bahwa seni menjadi sarana komunikasi bagi mereka yang merasa kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya secara verbal. Karena itu, terapi seni sebagai jenis psikoterapi yang memanfaatkan media seni dan artistik diperlukan untuk membantu individu mengeksplorasi pikiran dan emosi mereka dengan cara yang unik.


Menurut Irma, “Proses artistik berpotensi menjadi media komunikasi yang efektif, sekaligus media katarsis untuk melepaskan ketegangan, kecemasan, dan emosi-emosi yang terpendam dengan cara mengekspresikannya melalui karya seni.” Proses katarsis bisa dilakukan melalui dua cara, yaitu secara aktif melalui proses penciptaan karya, dan secara pasif melalui proses apresiasi karya. Penciptaan karya seni bisa dilakukan dengan banyak hal, bahkan yang paling sederhana seperti menggambar, mewarnai, menyusun guntingan gambar-gambar menjadi kolase, membuat dan menghias jurnal harian dengan gambar-gambar, membuat scrapbook, membuat sketsa, membuat drawing, melukis objek yang diimanijasikan atau benda-benda di sekitar atau bahkan melukiskan kembali lukisan yang telah ada, dan sebagainya. Sedangkan apresiasi karya bisa dilakukan dengan melihat karya-karya seni secara daring yang sekarang telah banyak tersedia di media sosial maupun website.


Karya seni dalam terapeutik seni ini juga tidak terbatas hanya pada karya seni rupa, melainkan juga bisa dilakukan melalui seni musik, tari, dan seni lainnya. “Seni, selain menjadi semacam ‘jendela’ untuk melihat ke dalam jiwa, juga memperkaya jiwa, bukan hanya bagi senimannya, tetapi juga bagi apresiatornya,” kata Irma.


Dengan mengetengahkan terapeutik seni yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah ini, Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto berharap fungsi seni bisa lebih luas serta dapat berkontribusi secara nyata ke dalam realitas kehidupan yang menyentuh secara personal. “Terapeutik seni membuktikan bahwa seni bukan hanya persoalan estetik, namun juga sebagai hal penting yang dibutuhkan manusia untuk kesehatan jiwanya,” katanya. Dengan digelarnya acara ini, diharapkan masyarakat dapat melakukan terapeutik seni secara mandiri di rumah, bahkan menularkan pengetahuan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya, sehingga mendukung terciptanya masyarakat dengan lingkungan yang lebih baik.(Hs.Foto.Dok.Galnas)

Related posts