Rupiah Melemah di Tengah Mandeknya Negosiasi AS-Iran

Ilustrasi nilai tukar rupiah dengan dolar AS/Foto : Freepik Ilustrasi nilai tukar rupiah dengan dolar AS/Foto : Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan terbaru seiring meningkatnya ketegangan geopolitik akibat berhentinya negosiasi AS-Iran

Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat dolar AS, sehingga memberikan tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Berdasarkan pantauan, rupiah pada Rabu (29/4) melemah sebesar 32 poin atau 0,19 persen ke level Rp17.275 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.243 per dolar AS.

Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen global yang tidak kondusif, terutama dari kawasan Timur Tengah.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai bahwa faktor utama pelemahan rupiah adalah mandeknya proses negosiasi damai antara AS dan Iran. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut berdampak langsung pada pasar energi dan inflasi global.

“Harga minyak terus meningkat sejak sesi Asia hari Selasa (28/4), didorong oleh mandeknya negosiasi perdamaian antara AS dan Iran. Akibatnya, kekhawatiran terhadap inflasi global semakin meningkat, sehingga menekan mata uang Asia, termasuk rupiah,” ujar Josua dikutip dari laporan ANTARA pada Kamis (30/4).

Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran memang telah lama menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.

Saat negosiasi mengalami kebuntuan, pasar biasanya merespons dengan meningkatkan aset safe haven seperti dolar AS dan emas, sementara mata uang negara berkembang cenderung melemah.

Dalam kondisi terbaru, meningkatnya harga minyak dunia juga menjadi pemicu tambahan tekanan. Iran merupakan salah satu pemain penting dalam pasar energi global, sehingga setiap gangguan dalam proses diplomasi dapat memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak.

Selain itu, pasar juga mencermati sikap Amerika Serikat yang dinilai masih skeptis terhadap proposal Iran. Ketidakpastian ini membuat investor cenderung menghindari risiko, yang berdampak pada arus modal keluar dari negara berkembang.

Selain faktor AS–Iran, penguatan dolar AS turut memperburuk tekanan terhadap rupiah. Dolar yang menguat biasanya terjadi ketika investor global mencari aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian geopolitik.

Situasi ini membuat mata uang Asia, termasuk rupiah, berada dalam posisi rentan. Ekspektasi inflasi global yang meningkat juga mendorong bank sentral di berbagai negara untuk bersikap lebih hati-hati dalam kebijakan moneternya.