Sang Hyang Dedari

Sang Hyang Dedari merupakan pertunjukan teater tradisi di Bali yang disuguhkan dalam bentuk tarian.

Sang Hyang Dedari sendiri biasanya digelar untuk menolak bala ataupun penyakit, sehingga tidak semua orang bisa menyaksikannya.

Tarian yang lebih kepada ritual pemujaan terhadap bumi ini memang langka. Dulu, pada abad ke-8, tarian ini dilaksanakan di setiap desa di Bali. Lalu punah, karena memerlukan komunitas pemain gamelan yang khusus, para penari yang khusus pula, dan tembang yang hanya diajarkan lewat penuturan.

Terkait dengan jumlah penarinya, Ketua Desa Adat Nyoman Subratha dilansir dari laman resmi Kemenparekraf beberapa waktu lalu menjelaskan akan dilakukan oleh 6 hingga 7 orang. Namun biasanya salah satunya akan gagal tampil dikarenakan tidak dimasuki roh Sang Hyang Dedari.” Para penari tersebut yang akan dimasuki oleh roh Sang Hyang Dedari,Mereka menjadi bidadari dalam keadaan kesurupan, lalu menarikan tarian yang menirukan gerakan padi di sawah,” jelas Nyoman.

Untuk penarinya sendiri, menurut Nyoman tidak bisa sembarangan, harus anak perempuan yang belum akil balig atau belum menstruasi.

Nyoman juga mengatakan Tari Sang Hyang Dedari sendiri memiliki 25 jenis tarian, yaitu Tari Sanghyang Dedari, Sanghyang Sampat, Sanghyang Lingga, Sanghyang Jagad, Sanghyang Jaran, Sanghyang Menjangan, Sanghyang Deling, Sanghyang Kebo, Sanghyang Bangau, Sanghyang Barong.

Selanjutnya Sanghyang Tujo, Sanghyang Prahu, Sanghyang Kelor, Sanghyang Bunga, Sanghyang Lelipi (ular), Sanghyang Celeng (babi), Sanghyang Kuluk (Puppy), Sanghyang Bojog, Sanghyang Sampat, Sanghyang Jaran Gading, Sanghyang Jaran Putih, Sanghyang Dongkang (katak), Sanghyang Penyu, Sanghyang Sembe, dan Sanghyang Penyalin.(Hs.Foto.Istimewa)

 

Related posts