Jakarta, GPriority.co.id – Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Eddy Hermawan mengatakan bahwa salah satu indikasi dampak terjadinya perubahan iklim adalah frekuensi terjadinya kejadian ekstrem semakin meningkat, satu di antaranya adalah curah hujan ekstrem di Jakarta, tepatnya awal tahun 2020 (31 Des 2019 – 01 Jan 2020), di mana tercatat curah hujan harian di Stasiun Pengamatan Halim Perdana Kusuma, Jakarta pada waktu itu tercatat sebesar 377 mm.
“Sebenarnya tidaklah mudah memprediksi terjadinya curah hujan ekstrem yang menyebabkan Jakarta dan kawasan sekitarnya lumpuh total pada saat itu. Hal ini disebabkan selain minimnya pengetahuan kita tentang gelombang atmosfer yang terjadi saat itu, juga keterbatasan kita dalam mendapatkan data beresolusi tinggi,” jelas Eddy pada agenda diskusi bersama media di Gedung BRIN, Jakarta, Rabu (4/2).
Satu catatan penting menurutnya, prediksi hanya dapat dilakukan bilamana data yang diolah bersifat teratur (stasioner), sementara data curah hujan dan parameter pendukungnya umumnya bersifat tidak stationer. Oleh karena itu data tersebut dipaksa untuk menjadi stasioner.
“Sebelumnya kita menggunakan teknik konvensional (dikenal sebagai ARIMA), namun kini BRIN mencoba untuk menggunakan Mechine Learning, Deep Learning, AI, Big Data dan lainnya. Yang pernah dilakukan adalah bagaimana memprediksi anomali curah hujan menggunakan teknik Hybrid ARIMA-LSTM, selain didapat akurasi yang relatif lebih baik, juga jangkauan waktu prediksi yang relatif lebih jauh,” ungkap Eddy.
Khusus untuk Jakarta dan sekitarnya, Eddy menyebutkan perlunya mentransformasi data-data baik berbasis satelit, re-analisis, ataupun dari BMKG yang kaya dengan data in-situ. Data-data tersebut dikemas dalam bentuk “Sistem Peringatan Dini” yang tepat waktu, tepat sasaran, dengan presisi prediksi yang “tinggi”, dan yang lebih penting bias diterapkan untuk satu kawasan yang relatif kecil (“localized”).
Tidak kalah pentingnya lanjut Eddy, karena curah hujan ekstrem umumnya dibangkitkan oleh kumpulan awan-awan besar (giant clouds), seperti awan Cb atau SCCs yang tinggi awannya hingga mencapai 15-16 km dpl. Maka kehadiran data radar BMKG mutlak diperlukan. Di sini nampak jelas, diperlukan adanya multi parameter, multi lapisan, dan multi teknik agar hasilnya memiliki nilai presisi yang tinggi.
Lebih lanjut, Eddy menerangkan tidak ada yang tahu pasti Musim Hujan (MH) 2026 ini akan segera berakhir. Namun, ia memprediksi akan berakhir di akhir Februari atau awal Maret 2026. Ini terjadi diduga akibat dua pengontrol Monsun Asia dan IOD sudah mulai bergerak ke fase normal (neutral).
“BRIN berkomitmen untuk fokus ke riset dan inovasi bagaimana membuat satu system peringatan dini yang utuh, runut, terpadu, menyeluruh didasarkan kepada hasil analisis yang tajam dan mendalam agar kita punya saving time. Diskusi ilmiah seperti inilah yang kita perlukan, agar dampak hujan esktrem dapat diredam seminimal mungkin melalui diskusi ilmiah dengan berbagai pakar baik yang ada di dalam ataupun di luar negeri,” pungkasnya.
