Jejak Budaya Megalitikum di Sabu Raijua

Kebudayaan Megalitikum bukanlah suatu zaman yang berkembang sendiri, melainkan suatu hasil budaya yang timbul pada zaman Neolitikum dan berkembang pesat pada zaman logam. Setiap bangunan yang diciptakan oleh masyarakat tentu memiliki fungsi. Contohnya hasil kebudayaan zaman megalitikum: kapak persegi, kapak lonjong, Menhir , Dolmen, Kubur batu, Waruga, Sarkofagus, Punden Berundak.

Bukti – bukti peninggalan prasejarah zaman Megalitikum masih dapat dijumpai di Indonesia, salah satunya di Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Di Kabupaten Sabu Raijua ada sebuah kampung yang hingga saat ini masih memegang teguh budaya Megalitikum. Namanya kampung Namata yang terletak di Desa Raeloro, Kecamatan Sabu Barat.

Saat berada didalamnya Anda akan menemukan sejumlah peninggalan megalitikum yang sebagian besar masih digunakan penduduk untuk melakukan ritual adat pemujaan pada para dewa atau leluhur.

Selain bebatuan, Anda akan menemukan 7 buah rumah adat yang tidak bisa ditambahkan dan dikurangi.Beranjak ke tengah kampung, Anda akan menemukan 9 buah batu besar bulat dan altar persembahan yang menjadi tempat pemujaan bagi para leluhur yang menjaga kampung adat.

Nah untuk memasuki kampung ini, Anda harus mematuhi peraturan yang berlaku seperti wajib menggunakan baju adat , selimut maupun sarung motif Sabu. Anda bisa mempersiapkannya dari rumah atau menyewa pada warga di sekitar pintu masuk kampung.


Anda juga tidak bisa sembarangan memasuki rumah adat, karena menurut penjaga Kampung Namata, Beni Keina dikutip dari kumparan.com (4/9/2020), ada beberapa rumah yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung.


Anda juga dilarang untuk memfoto atau menduduki beberapa batu yang terletak di bagian tengah. Konon katanya batu-batu tersebut memiliki kekuatan gaib yang bisa mendatangkan penyakit atau hal buruk. (Hs)


Related posts