Menkopolkam Perketat Pengawasan di 10 Titik Rawan Jalur Masuk Narkoba

Jakarta, GPriority.co.id – Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) akan memperketat pengawasan di 10 titik yang dianggap rawan sebagai jalur masuk peredaran narkoba internasional ke Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Menko Polkam Budi Gunawan (BG) dalam konferensi pers pemusnahan dua ton narkoba di Batam, Kamis (12/6).

Menurutnya, kesepuluh titik tersebut tersebar di wilayah Sumatera dan Kalimantan, serta pesisir barat Sulawesi.

“Setidaknya terdapat 10 titik kawasan yang menjadi prioritas pengawasan desk, yaitu mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan,” ujar BG.

“Empat wilayah lainnya adalah di Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan seluruh pantai sisi barat Sulawesi,” lanjutnya.

Wilayah-wilayah tersebut dinilai rawan karena mayoritas pengungkapan kasus penyelundupan narkoba oleh Desk Pemberantasan Narkoba Kemenko Polkam terjadi di kawasan tersebut.

Salah satu kasus terbaru adalah pengungkapan penyelundupan dua ton sabu di perairan Kepulauan Riau. Narkoba tersebut ditemukan dalam 67 kardus berisi 2.115.130 gram sabu, dikemas dengan ciri khas jaringan narkoba internasional Golden Triangle.

Pengungkapan bermula dari kecurigaan terhadap kapal Sea Dragon Terawa yang berlayar dari perairan Andaman menuju Kepulauan Riau pada 20 Mei 2025. Pada 22 Mei pukul 23.00 WIB, tim gabungan dari BNN, Ditjen Bea Cukai, Lantamal IV, Polda Kepri, dan Bais TNI melakukan operasi penindakan.

Kapal tersebut kemudian ditarik ke Dermaga Bea Cukai di Pelabuhan Tanjung Uncang untuk pemeriksaan. Di sana, petugas menemukan barang bukti sabu dalam jumlah besar yang dikendalikan oleh jaringan internasional.

Menko Polkam Budi Gunawan menegaskan, pihaknya juga akan membangun kerja sama dengan Interpol guna mengejar para pengendali jaringan narkoba yang berada di luar negeri.

“Pengawasan akan terus diperketat untuk memotong jalur masuk narkoba ke Indonesia,” tegasnya.

Foto: dok.Kemenko Polkam