PPOK Urutan ke-3 Penyebab Utama Kematian di Dunia

Jakarta,Gpriority-Setiap tahunnya pada Bulan November, seluruh masyarakat dunia memperingati World COPD Day atau yang kita kenal sebagai hari PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) sedunia.

Peringatan ini ditujukan untuk meningkatkan kewaspadaan kita terhadap penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). PPOK sendiri merupakan penyakit saluran pernapasan dengan sifat progresif, dan berkaitan dengan pajanan terhadap asap rokok serta polusi udara.

Pertama kali diadakan di tahun 2002, peringatan hari PPOK sedunia diselenggarakan oleh lebih dari 50 negara di seluruh dunia. Tahun ini merupakan peringatan ke-20 hari PPOK sedunia yang jatuh pada tanggal 17 November 2021. Adapun tema yang diangkat adalah“Healthy Lung- Never more important”. Tema ini kembali mengingatkan bahwa PPOK masih menjadi masalah di dunia.

Pada tahun 1990, data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan PPOK menempati urutan ke-6 sebagai penyebab utama kematian di dunia. Angka ini terus meningkat menjadi urutan ke-5 pada tahun 2002, dan pada tahun 2019 PPOK telah menempati urutan ke-3 sebagai penyebab utama kematian akibat penyakit tidak menular di dunia.

Sebagian besar kematian akibat PPOK terjadi pada negara berkembang. Kematian akibat PPOK diperkirakan akan terus meningkat kedepannya. Hal ini terjadi terutama pada mereka yang terus-menerus terkena asap rokok maupun polusi udara. Saat ini PPOK terdiagnosis lebih dari 300 juta kasus di dunia. Di Indonesia sendiri diperkirakan sekitar 4,8 juta orang menderita PPOK.

Terkait dengan tema yang dipilih tahun ini, healthy lung-never more important, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dalam siaran persnya secara virtual pada Rabu (18/11/2022) ditujukan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat luas akan pentingnya kesehatan paru.

Kesehatan paru dapat tercapai dengan cara tetap bergerak aktif, mengurangi pajanan terhadap polusi udara dan asap rokok, menjaga nutrisi yang baik serta tetap aktif mengkonsumsi obat secara benar dan rutin kontrol sesuai rekomendasi dari penyedia layanan kesehatan.

Inisiatif untuk mengurangi angka kematian maupun beban yang ditimbulkan akibat PPOK telah dilakukan di seluruh belahan dunia, termasuk diantaranya program berhenti merokok, program untuk mengurangi polusi udara baik dalam maupun luar ruangan, serta skrining secara aktif terhadap faktor risiko penyakit paru.

Meskipun saat ini dunia masih dilanda oleh pandemi COVID-19, beban yang ditimbulkan akibat PPOK tetap meningkat. Bahkan, mereka yang menderita PPOK memiliki risiko tersendiri berkaitan dengan infeksi COVID-19. Pasien dengan PPOK diketahui memiliki kerentanan terhadap infeksi virus, termasuk diantaranya COVID-19. Infeksi virus pada pasien PPOK, dapat mencetuskan perburukan secara akut yang dikenal sebagai eksaserbasi. Eksaserbasi pada penderita PPOK diketahui dapat menurunkan kualitas hidup, menurunkan fungsi paru serta menimbulkan kematian akibat komplikasi PPOK.

Selaras dengan hal ini, penderita PPOK yang terinfeksi COVID-19 seringkali dilaporkan mengalami penyakit dengan derajat yang lebih berat, dan tidak jarang memerlukan perawatan intensif.

Pada penderita COVID-19, diperkirakan antara 2 hingga 13 persen diantaranya menderita PPOK. Data ini bervariasi di seluruh dunia dan seringkali bertolak belakang. Data yang berkontradiksi satu sama lainnya menunjukkan seringnya PPOK tidak terdiagnosis. Oleh karena itu penting mengenali penyakit secara dini dan dapat meningkatkan efektivitas pengobatan serta menurunkan risiko perburukan penyakit.

“Adanya pandemi mengingatkan kita betapa pentingnya kesehatan paru kita dalam menjaga tubuh kita dari penyakit. Kesehatan paru menjadi bagian penting dalam hidup kita sehari-hari. Adanya pandemi bukan berarti mencegah kita untuk tetap aktif bergerak. Berhenti merokok memiliki peranan yang besar dalam mencegah terjadinya PPOK. Berhenti merokok dapat mengurangi beratnya gejala PPOK pada mereka yang sudah terdiagnosis,” ucap DR. Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K)

Lebih lanjut dikatakan Agus Dwi, Gerakan secara aktif mencegah timbulnya polusi udara baik di dalam maupun di luar ruangan perlu konsisten/terus menerus dilakukan.

” Jangan ragu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas – fasilitas kesehatan yang ada disekitar kita dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Dianjurkan untuk mendapatkan vaksinasi guna pencegahan terhadap infeksi paru, influenza, maupun COVID-19,” ucap Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) menambahkan.

Erlina Burhan dalam kesempatan tersebut juga mengatakan bahwa perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang sehat untuk pekerjanya, masyarakat dapat menjaga lingkungan bebas dari polusi udara, mereka yang sakit beserta keluarganya dapat memanfaatkan kualitas layanan kesehatan termasuk rehabilitasi paru, (yang menjadi fokus badan kesehatan dunia saat ini). Pemerintah dan penyedia layanan kesehatan dapat bekerja sama untuk meningkatkan akses ke layanan kesehatan, termasuk ketersedian obat-obatan serta sarana untuk mendiagnosis PPOK secara dini.

“Pencegahan selalu lebih baik dari mengobati. Paru yang sehat, menghindarkan kita dari berbagai macam penyakit,” tutupnya.(Hs.Foto.Hs)

Related posts