BPS: 61 Kota Mengalami Deflasi

Jakarta,Gpriority-Berdasarkan data yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) ada 61 kota di Indonesia yang mengalami deflasi pada Juli 2020.

Untuk  deflasi tertinggi, Suhariyanto,Kepala BPS dalam keterangan persnya secara virtual pada Senin (3/8/2020) mengatakan, terjadi di Manokwari yakni sebesar 1,09%, sementara deflasi terendah terjadi di Gunung Sitoli, Bogor, Bekasi, Luwuk dan Bulukumba sebesar 0,01%.

Menurut Suhariyanto, deflasi terjadi dikarenakan  turunnya berbagai permintaan khususnya dari kelompok bahan makanan, minuman dan tembakau akibar Covid-19. “ Kelompok ini menyumbang terjadinya deflasi sebesar 0,19 persen dengan tingkat deflasi mencapai 0,73 persen. Kemudian juga didorong oleh penurunan harga atau tarif angkutan transportasi. Kelompok tersebut menyumbang terjadi deflasi sebesar 0,02 persen dengan tingkat deflasi pada Juli 2020 kemarin sebesar 0,17 persen,” ucap Suhariyanto.

Selain deflasi, Suhariyanto juga mengumumkan tentang inflasi. Dijelaskan oleh Suhariyanto, inflasi pada 2020 ini merupakan yang terendah sejak tahun 2000. Pada saat ini, Indonesia mengalami inflasi secara tahunan sebesar 1,54 persen.

“Inflasi tahunan kalau kita lihat pada Juli sebesar 1,54 persen. Inflasi ini terendah sejak Mei tahun 2000. Mei tahun 2000 terjadi inflasi 1,2 persen,” kata Suhariyanto.

Untuk daerah yang mengalami inflasi   tertinggi terjadi di Timika sebesar 1,45 persen. Dan inflasi terendah terjadi di Banyuwangi dan Jember sebesar 0,01 persen.

Suhariyanto berharap dengan adanya pengumuman inflasi dan deflasi di bulan Juli, Bank Indonesia bisa terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah pusat dan daerah serta otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran COVID-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu. Termasuk langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh sehingga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan di Indonesia tetap berjalan baik serta berdaya tahan.

Diketahui jika deflasi terus terjadi akan berakibat pada merosotnya pendapatan berbagai perusahaan, perubahan pola pengeluaran konsumen serta pengurangan gaji dan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Sedangkan jika inflasi terus menerus terjadi maka bisa membuat perekonomian terpuruk, sebab harga-harga barang atau jasa diluar jangkauan masyarakat umum. Dengan semakin menurunnya nilai mata uang, akan mendorong para pemilik tabungan untuk mengeluarkan uangnya.#(Haris)

Related posts