Amerika Serikat, GPriority.co.id – Sebuah penelitian yang dilansir dari NY Post menyebutkan jika penderita gangguan mental kemungkinan besar menikah dengan sesamanya (orang yang juga memiliki masalah kesehatan mental).
Menurut Chun Chieh Fan, salah satu penulis studi dan peneliti di Laureate Institute for Brain Research mengklaim jika pola ini telah berlaku baik di berbagai negara, berbagai budaya, hingga lintas generasi.
Di Amerika Serikat (AS) sendiri gangguan mental diderita 23,1 persen orang dewasa di tahun 2022. Persentase tersebut meningkat dari dua dekade sebelumnya yang berada di angka 18,1 persen, menurut data Institut Kesehatan Mental Nasional AS.
Sementara itu, penelitian sebelumnya menujukkan bahwa ketika salah satu pasangan berjuang melawan masalah kesehatan mental, maka pasangan lainnya dapat dua hingga tiga kali lebih besar kemungkinannya untuk menderita stres, kecemasan, hingga depresi.
Namun penelitian terbaru mengatakan jika penyakit mental bukan hanya membebani hubungan, tetapi juga berperan dalam memicu terjadinya gangguan kesehatan tersebut.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Chun Chieh Fan bersama rekan-rekan peneliti lainnya yang meneliti 14,8 juta orang di Taiwan, Denmark, serta Swedia. Hasilnya, sembilan diantaranya menderita gangguan kejiwaan seperti skizofrenia, bipolar, depresi, kecemasan, ADHD, autisme, OCD, hingga gangguan penggunaan zat berbahaya dan anoreksia.
Penelitian tersebut menemukan fakta bahwa orang dengan kondisi gangguan mental cenderung menikahi pasangan yang juga mengidap penyakit mental. Pola pernikahan ini semakin meningkat terjadi pada pasangan yang lahir di tahun 1930-an hingga 1990-an.
“Mungkin mereka lebih memahami satu sama lain karena penderitaan yang mereka alami bersama, sehingga mereka lebih mudah sama-sama tertarik,” ujar Fan.
Para peneliti tersebut juga menyoroti fenomena konvergensi, dimana pasangan menjadi ‘lebih mirip’ seiring berjalannya waktu karena lingkungan yang sama. Selain itu, ditemukan fakta mengejutkan bahwa anak yang lahir dari orang tua yang keduanya memiliki gangguan mental dua kali lebih mungkin menderita hal yang sama, dibandingkan jika hanya salah satu orang tuanya yang menderita.
Gangguan mental bukan hanya memengaruhi pikiran, namun juga seringkali memiliki efek berantai hingga ke keluarga dan masyarakat luas. Begitupun kepada kesehatan tubuh penderitanya. Sebagai contoh, orang yang mengalami depresi memiliki risiko 40 persen lebih tinggi untuk terkena penyakit jantung dan metabolik dibandingkan orang pada umumnya.
Sementara dalam hubungan, penelitian menunjukkan bahwa dalam pernikahan, ketika salah satu pasangan memiliki masalah kesehatan mental, maka peluang perceraiannya lebih tinggi. Peluang tersebut bahkan lebih meningkat ketika kedua pasangan sama-sama mengidap gangguan mental.
